Recent post
“Croop… croop… croop...” begitulah suara kelaminku yang beradu
dengan kelamin mas Herry.
“Ah, Lin, goyanganmu semakin lincah aja… oughh…” mas Herry menindihku dan
memelukku erat sekali. Nampak kalau dia benar-benar menikmati goyanganku.
“Ough… oouuhh…” aku mendesah dalam pelukannya.
“Aghh… Lin… agghhh…” kini mas Herry semakin cepat menggoyang pinggulnya,
menghujamkan kemaluannya ke liang kelaminku. Akupun merasa nikmat saat kelamin
mas Herry bergerak di dalam liang kelaminku. Kuimbangi gerakannya dengan ikut
bergoyang memutar-mutar pinggulku, membuat suamiku itu semakin mendesah
keenakan.
“Ahhh… wuuaaaahhh…” tiba-tiba goyangan mas Herry menjadi semakin cepat,
nafasnya semakin berat, pertanda dia akan mengalami orgasme sebentar lagi.
“Oh, jangan dulu!” ucapku dalam hati, aku masih ingin menikmati permainan ini
sedikit lebih lama. Tetapi terlambat, mas Herry nampaknya sudah tak tahan lagi.
Orgasmenya pun tiba.
“Ahhh… ahh… ahh…” sekitar 3-4 kali kelaminnya menyemprotkan cairan sperma di dalam
bibir rahimku. Rasanya hangat dan geli.
Setelah mencabut kelaminnya, tubuh mas Herry terkulai lemas di sampingku.
Nampak dari sinar wajahnya, dia mengalami orgasme yang luar biasa. Sementara
aku, rasanya masih setengah jalan, tubuhku masih ingin lagi. Namun untuk
menyenangkan suamiku, aku harus tetap tersenyum. Dan mengatakan padanya bahwa
permainan kami tadi sungguh luar biasa.
Tanpa membersihkan kelaminnya terlebih dahulu, mas Herry langsung tertidur.
Rupanya dia benar-benar kecapekan setelah menggenjot tubuhku tadi. Aku langsung
ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Siraman air dingin di bibir
kelaminku membuat birahiku yang belum turun sepenuhnya meninggi lagi. Perlahan
kusentuh sendiri kelaminku. Aku memang belum selesai, aku belum puas. Tetapi
niat untuk memuaskan diriku sendiri kuurungkan.
“Untuk apa aku melakukan itu?” tanyaku dalam hati. Toh nanti aku bisa
terpuaskan. Yah, besok pagi mas Herry akan pergi ke luar kota untuk beberapa
hari. Itu tandanya selama beberapa hari kepergiannya, aku akan mendapatkan
kenikmatan bercinta yang sebenarnya. Dengan orang lain. Dengan Andi. Tetangga
sebelah rumah...
***
“Aaahh… ouughh… aaahh…” aku seperti orang yang kesetanan, saat kelaminku
bergoyang-goyang di atas kemaluan Andi. Kugerakkan pinggulku naik turun,
mengocok-ngocok kemaluannya yang sedang tegak dengan sempurna itu.
“Oouugghhh… aahh…” aku makin kegelian saat Andi memainkan puting payudaraku.
Oh, rasanya nikmat sekali, dan perasaan geli ini semakin menjadi-jadi ketika
goyangan tubuhku di atas tubuhnya makin kupercepat.
“Aaaahhh… hhsssss… eggghh…” dan meledaklah orgasmeku, entah untuk yang keberapa
kalinya, aku tak mampu lagi mengingatnya. Yang aku tahu hanyalah kenikmatan
yang luar biasa, yang tidak kudapatkan saat aku melakukannya dengan suamiku
sendiri.
Mungkin aku sudah menjadi wanita binal, mendapatkan kepuasan bercinta dari
lelaki yang bukan suamiku. Dan parahnya lagi, lelaki itu adalah suami orang.
Namun aku tak perduli, semenjak Andi ’memperkosaku’ aku menjadi ketagihan
bencinta dengannya. Aku ketagihan genjotan kelaminnya pada tubuhku.
Aku terkulai lemas di atas tubuh pemuda itu. Kelaminnya yang lebih besar dari
milik suamiku, masih menancap di dalam kelaminku dan aku yakin basah oleh
cairan kenikmatannku. Lalu diangkatnya tubuhku, dan dia bersiap untuk
menyelesaikan permainan ini. Aku hanya bisa pasrah saat disuruhnya aku untuk
menungging membelakanginya. Kuangkat pantatku tinggi-tinggi, sehingga aku yakin
kemaluanku dapat terlihat jelas olehnya, basah dan terbuka.
“Eeeehhh… ooohhh…” aku mengerang keenakan saat kemaluannya yang besar perlahan
mulai masuk menembus kemaluanku. Tak banyak bicara lagi, Andi langsung
menggenjotku dengan cepat dan keras, dari belakang.
“Ooohh… ooohh… ooohh…”
“Hhhmmpphh… hhmmmpp…”
Suara desahan kami bersahut-sahutan, diiringi suara kelamin kami yang saling
beradu, berpacu menuju kenikmatan bercinta. Posisi ini sama enaknya dengan
posisi aku di atas. Ah, tidak aku salah, semua posisi yang kulakukan dengan
Andi selalu dapat membawaku menuju puncak kenikmatan.
“Plaaakk!“ Andi memukul pantatku, dan rasanya pukulan itu makin membuat
birahiku makin meninggi.
“Aahh... Lin, makin lama kamu makin liar, hehehe…” godanya sambil meremas
payudaraku kuat-kuat.
“Huuh, massss… aaahhh…” aku sudah tidak peduli lagi siapa aku ini, aku hanya
ingin meraih kenikmatan. Aku sudah kecanduan sodokan kelaminnya yang besar dan
panjang itu.
“Creep… creeep… croopp...” bunyi sodokan batang kemaluannya, makin membuatku
bergairah.
“Aaaahhhh…” tak sadar, aku menjerit saat orgasmeku datang lagi. Kuremas kain
seprai kasurku, rasanya nikmat sekali. Otot-ototku menegang, wajahku semakin
sayu mendapatkan kenikmatan yang bertubi-tubi ini.
“Hhmmpphh… hmmpphh…” desah Andi yang rupanya mengetahui aku orgasme, namun
malah makin mempercepat goyangannya pada tubuhku dan makin membuat aku
kesetanan.
Selama hampir 5 menit dia menyetubuhiku dengan posisi doggie ini, sudah 2 kali
aku merasakan orgasme. Kalau digabung dengan keseluruhan dari awal kami
bercinta sejak pagi ini, entah sudah berapa kali orgasme yang kudapatkan.
Sungguh snagat luar biasa.
“Hhhmmpphh… hhmmmpphh…” nafas Andi terdengar semakin berat seiring dengan
tekanan goyangannya pada tubuhku, kini kedua tangannya mencengkeram erat
pinggulku. Kurasakan kemaluannya seperti makin membesar, tanda dia akan
mengalami orgasmenya. Kuakui, permainan Andi sungguh luar biasa. Gara-gara Andi
pulalah, aku jadi ketagihan bercinta. Entah aku harus menyesal atau malah
bersyukur karena dulu dia nekat ’memperkosaku’.
“Aaaaggghhhh… ooouugghhh… aaahhh…” Andi orgasme dengan hebatnya, sekitar lima
kali kelaminnya menyemprotkan sperma di dalam lubang kemaluanku. Sepertinya
sudah lama batang kelamin itu tidak mengalami orgasme sehingga cadangan
spermanya begitu penuh. Wajar karena selama hampir seminggu ini, Novi,
istrinya, pergi ke luar kota, sementara suamiku berada di rumah. Namun anehnya,
aku merasa senang karena sperma yang tersimpan selama seminggu itu tumpah dalam
liang kemaluanku.
“Hoosshhh… hoshh… ahh, enak banget, Lin.” Andi berusaha mengatur nafasnya. Lalu
setelah mencabut kelaminnya, dia berbaring di kasur. Aku tanpa disuruh lagi,
dengan sigap segera menjilati batang kemaluannya yang mulai melemas. Memang
sudah menjadi kebiasaan setelah Andi orgasme, aku menjilati kelaminnya,
membersihkan sisa-sisa cairannya dengan lidahku. Dan anehnya, aku tidak merasa
jijik sedikitpun, malah aku menikmatinya. Ah, Andi benar-benar telah merubahku
menjadi wanita yang binal. Namun sekali lagi, aku tidak perduli dan
menikmatinya.
***
Seharian itu Andi benar-benar melepaskan nafsu birahinya atas tubuhku. Walaupun
aku jarang berbicara dengannya, tetapi aku selalu menurut apa yang ia
perintahkan. Aku benar-benar menjadi budak seksnya. Tapi entah kenapa, aku
menikmatinya. Seharian itu kami seperti pasangan mesum yang tiap waktunya hanya
kami isi dengan berhubungan badan melepaskan hasrat birahi kami berdua.
Hingga malam tiba, setelah menghabiskan makan malam dan menghisap satu batang
rokok, Andi mengajakku masuk lagi ke kamar. Lalu dia duduk dengan posisi kedua
kakinya lurus di atas kasur dan memintaku untuk mulai menghisap batang
kemaluannya. Aku benar-benar seperti budak nafsunya. Tanpa berkata apapun,
mulai kujilat dan kuhisap-hisap kelaminnya.
“Besok siang istriku pulang.” ujar Andi sambil membelai-belai kepalaku. Aku yang
masih sibuk menjilat batang miliknya hanya terdiam. Namun dalam hati aku yakin
bahwa malam ini Andi akan habis-habisan menyetubuhiku. Entah mengapa, aku
sedikit kecewa mengetahui bahwa besok Novi akan pulang. Tapi aku hanya diam
saja.
“Kamu udah makin pinter ngisep sekarang, Lina… enak kan kontolku?“ tanyanya
sambil meremas gundukan payudaraku. Aku hanya mengangguk pelan. Perlahan batang
miliknya mulai mengeras dan menegang.
Tiba-tiba diangkatnya daguku. Lalu dipandangnya wajahku dalam-dalam. “Lin, udah
sekian bulan aku ngentotin kamu, kamu ngerasa enak gak?“ tanyanya lagi. aku
hanya menjawab dengan anggukan kecil. Sementara tangannya masih menahan daguku.
“Tapi aku gak suka kalo kamu diem aja. Kenapa, takut ya sama aku?“ aku
menggeleng untuk menjawab pertanyaannya, tangan Andi masih terus menahan
daguku.
“Aku gak pernah kasar sama kamu kan, Lin? Ayo dong, jangan diem aja. Aku jadi
gak enak rasanya setiap ngentot sama kamu, kamunya diem aja kayak orang
ketakutan.”
“Iya, mas, aku gak apa-apa kok.” kali ini kujawab. Lalu andi mengangkat tubuhku
dan duduk menjajariku. Dia menciumi pipiku denga lembut, terus menjilati leher
dan telingaku. Sementara tangannya meremas-remas dan memainkan payudaraku.
Jari-jarinya memelintir puting buah dadaku dengan lincahnya. Oh, segera saja
birahiku muncul kembali. Harus aku akui, Andi sangat pandai membangkitkan
hasrat seksualku. Semenjak bercinta dengannya, aku baru menyadari ternyata
diriku menyimpan hasrat seksual yang begitu besar. Andi berhasil
mengobrak-abrik pertahananku.
Cumbuannya kali ini semakin liar, remasan tangannya pada payudaraku terasa
semakin kuat. Hal itu membuat birahiku semakin meninggi. Mataku jadi sayu dan
nafasku menjadi semakin berat. Entah kenapa aku selalu pasrah pada cumbuannya.
Kini dia berada tepat di belakangku, punggungku disandarkan pada dadanya,
dengan kedua tangannya terus bermain-main di bulatan putingku.
“Lin, aku mau tanya sesuatu sama kamu, jawab yah…” bisik Andi.
“Iya, mas…” aku menjawab lirih.
Tiba-tiba tanganku diarahkan pada batang kemaluannya. “Apa ini namanya, Lin?“
“Eeh…?!“ pertanyaannya mengagetkanku.
“Ayo jawab, sayang. Masa udah ngerasain enaknya, tapi gak tahu namanya?“
tanyanya lembut di telingaku sambil tanganku dituntunnya untuk mengocok batang
kemaluannya.
“Eehh... anu, mas…” aku merasa malu untuk mengatakannya, aku tidak tahu apa
maksudnya.
“Ini namanya kontol, sayang. Coba kamu bilang, KONTOL!!”
“Eh, mas…” aku ragu-ragu dan malu untuk mengatakan itu, karena terus terang,
seumur-umur aku belum pernah mengucapkan itu.
“Ayo, sayang, gak usah malu sama aku. Ayo bilang, K-O-N-T-O-L!!!”
“Ah, k-kon...t-tol!!!” akhirnya kuucapkan juga kata itu.
“Enak gak kontol aku, sayang? Kalo enak, bilang dong.” pintanya.
Aku makin tidak mengerti apa mau Andi, namun cumbuannya yang tak berhenti
membuatku tak sanggup berpikir lagi. “Iya, enak, mas…” jawabku pada akhirnya.
“Apanya yang enak? Yang lengkap dong kalo jawab!”
“K-kontol mas Andi, e-enak.” aku merasa sangat nakal sekali mengucapkan kalimat
itu, dan aku tak tahu apa maksud Andi menyuruhku mengatakan itu. Namun anehnya,
setelah aku mengucapkan kalimat itu, birahiku justru semakin meninggi.
Kini tanganku dituntunnya ke arah lubang kelaminku sendiri. Lalu ditahannya
disana. Andi menggunakan tanganku untuk mengelus-elus kelentitku dan bibir
kemaluanku sendiri.
“Memek kamu juga enak, Lin. Itulah sebabnya kenapa dulu aku nekat, aku selalu
ngaceng kalau lihat kamu. Dan memang benar, memekmu ternyata nikmat dan gurih.“
katanya.
Aku hanya terdiam mendengarnya, aku lebih berkonsentrasi merasakan sensasi
usapan di kelentitku.
“Kamu suka gak kalo memekmu dientot sama kontolku?” tanya Andi lagi.
“He-eh,” aku hanya mengangguk pelan.
“Bilang dong kalo suka. Bilang kalo memek kamu suka kalo dientot sama kontol
aku!!”
Aku benar-benar tak mengerti apa mau Andi, tapi aku turuti saja kemauannya.
“Iya, mas. Memekku suka banget kalo dientot sama kontol mas.” aku sendiri tak
percaya aku bisa mengucapkan kalimat senakal itu dari bibirku. Namun sama
seperti tadi, setelah mengucapkannya, rasanya hasratku menjadi semakin tinggi.
Aku merasa tidak tahan lagi. Oh, aku sudah benar-benar menjadi wanita binal.
“Hehehe… gitu donk, sayang. Kamu udah gak tahan ya pengen dientot sekarang?”
goda Andi tepat sasaran.
“He-em.” aku hanya mengguman pelan sambil menganggukkan kepala.
“Kok he-em doang? Bilang yang jelas dong, kalo memek kamu sudah gak tahan
pengen dientot sama kontolku…”
“Ehh... iya, mas. Entot memek Lina sekarang, mas. Lina pengen dientot sekarang
pake kontol mas.” aku sendiri terkejut bisa mengucapkan kalimat itu, tapi aku
tidak perduli, karena rasanya semakin nakal dan semakil binal aku berkata,
semakin tinggi pula birahi melanda tubuhku.
“Aaaahhh… masss…” aku terkejut saat tiba-tiba Andi mendorong jari tengah dan
jari telunjukku masuk ke dalam kelaminku sendiri yang sudah basah. Lalu
tangannya menuntun jari-jariku tersebut untuk mengocok kelaminku sendiri,
mengocok lubang memekku!
“Enak, sayang? Ayo bilang terus kalo kamu suka banget ngentot sama aku. Ayo!!”
Aah, sepertinya aku semakin menjadi, nikmat dan sensasi baru yang luar biasa
melanda tubuh mulusku. Tangan Andi semakin cepat menuntun jariku untuk mengocok
memekku. “Iya, mas... Lina gak tahan pengen dientot sama kontol mas!” sensasi
ini semakin meninggi setiap kali aku selesai mengucapkan kalimat-kalimat nakal
tersebut.
“Entot Lina sekarang, mas. Lina udah gak tahan. Aahhh…” aku makin berani
sekarang, dan aku sudah tidak peduli lagi, toh aku sudah menjadi budak seks
Andi.
“Mas, Lina pengen digenjot tiap hari sama kontol mas yang gede itu…” entah
siapa yang mengajari aku mengucapkan kata-kata seperti itu, tapi tiap kali aku
mengucapkannya, aku menjadi semakin nikmat. Lalu kurasakan tubuhku mengejang,
nafasku semakin berat, yah kurasakan sebentar lagi orgasmeku akan segera tiba.
Kini tanpa dituntun lagi oleh tangan Andi, jari-jariku sudah semakin cepat
mengocok lubang memekku sendiri.
“Aaaahhh… auuuhhhh... maassss… oouughhh…” dan meledaklah orgasmeku. Rasanya
benar-benar nikmat, aku sepertinya baru kali ini merasakan orgasme yang seperti
ini. Ah, andi memang pintar memancing birahiku.
Aku mulai mengatur nafasku, orgasme yang kurasakan tadi benar-benar luar biasa.
Selanjutnya Andi benar-benar menjadikan malam itu sebagai malam yang penuh
dengan hasrat birahi. Semalaman tubuhku dijadikan pemuas nafsu seksualnya, tapi
kurasakan nafsu seksualku juga terpuaskan. Berkali-kali kuucapkan
kalimat-kalimat nakal itu yang membuat birahiku semakin meninggi dan orgasmeku
semakin cepat datang.
Semalaman itu, entah sudah berapa kali aku orgasme. Mulai dari memekku hingga
mulutku rata mendapatkan semprotan sperma dari Andi. Kemaluan pemuda itu memang
benar-benar luar biasa, meskipun sudah berkali-kali orgasme, namun mampu
bangkit lagi dengan cepat. Aku tak tahu apa dia benar-benar bernafsu terhadapku
atau memang dia seorang maniak seks. Namun aku tak perduli, yang penting aku
menikmati dan terpuaskan. Malah sepertinya aku ketagihan bersetubuh dengannya.
Aku ketagihan kontol besarnya!!!
***
Seharian ini kuhabiskan waktuku untuk beristirahat, setelah semalaman tubuhku
digarap oleh Andi. Menjelang sore, aku bangun untuk membersihkan rumah dan
membersihkan tubuhku. Malam ini Andi tidak menyetubuhiku karena Novi sudah
pulang siang tadi. Walaupun aku belum bertemu dengan Novi, tapi aku sempat
mendengar suaranya tadi siang. Mungkin sekarang mereka sedang bercinta.
Tiba-tiba aku merasa sangat iri dengan Novi yang memiliki suami seperti Andi,
yang hebat dalam bermain ranjang. Tidak seperti mas Herry, suamiku, yang hanya
sibuk memikirkan pekerjaannya.
Saat mandi, kubayangkan mereka berdua sedang bercinta. Aku yakin Novi pasti
juga hebat dalam bercinta, karena kutahu mereka selalu nampak mesra. Novi
memang ceplas-ceplos kalo bicara, kadang dia tidak malu-malu untuk mencium
suaminya di depanku bahkan mengucapkan kalimat-kalimat nakal di depanku.
Kalimat yang baru tadi malam aku ucapkan. Ah, tiba-tiba birahiku muncul. Aku
berniat untuk memuaskan tubuhku sendiri. Tapi segera kuurungkan niatku.
Cepat-cepat aku selesaikan mandiku, lalu berganti baju.
Sehabis maghrib, aku hendak bersiap-siap masak untuk makan malam. Ketika kubuka
kulkasku, tiba-tiba kudengar ketukan di pintu rumahku.
“Lin, Lina… Novi nih, bukain dong!” oh, ternyata Novi, dalam hatiku. Lalu aku
pun bergegas membukakan pintu.
“Wah, kamu lama bener perginya…” sapaku ramah, kulihat Novi membawa rantang
makanan. Setelah berciuman pipi, kupersilahkan dia duduk di sofa ruang tamu.
“Nih oleh-oleh, ayam kampung panggang presto khas dari sana. Belum basi kok.”
“Wah, Nov, kebetulan nih aku baru mau masak. Makasih ya... yuk kita makan
sama-sama, mas Herry sedang keluar kota soalnya.”
“Wah, kamu sendirian dong? Aku udah makan kok, Lin, kamu makan aja cepet.”
“Andi kerja, Nov?“ entah kenapa kutanyakan hal itu.
“Enggak, dia kusuruh mbolos, hehehe... maklum, aku kangen.” ujar Novi genit.
Aku berusaha menenangkan diriku sendiri seolah-olah tidak terjadi apa-apa
antara diriku dengan Andi. Sementara ini sandiwaraku di depan Novi berjalan
lancar, padahal sudah beberapa bulan ini suaminya membagi kenikmatan bersamaku.
“Eh, Lin, sekarang kamu makan dulu yah, ntar kalo udah gak ada kerjaan, cepet
ke rumahku. Ada yang mau aku ceritain, hehehe… pokoknya tak tunggu.” kata Novi
sok misterius.
“Nggak besok aja ta? Ntar ganggu lagi.” godaku padanya.
“Kok ganggu? Ya enggaklah, kan aku yang suruh. Masa kamu sama teman sendiri
berani nolak?!”
“Bukan gitu, Nov...” belum selesai kalimatku, sudah dipotong oleh Novi.
“Aku ndak mau tahu. Pokoknya malem ini, kalo kamu udah gak ada kerjaan, tak
tunggu di rumah. Titik. Dan awas kalo gak dateng!“
“Iya deh, iya. Aku nurut kok.”
“Ya sudah, aku pulang dulu. Tak tunggu ya, daaah...”
Setelah Novi kembali ke rumahnya, aku mulai makan. Novi memang sudah aku anggap
sebagai keluargaku sendiri. Di kompleks perumahan yang baru jadi ini, masih
sepi penghuninya, sehingga aku bersyukur punya tetangga seperti Novi. Tapi
setelah hubungan gilaku dengan Andi, kadang aku merasa bersalah dengan Novi.
Tetapi aku tak kuasa menolak ajakan Andi, kalo sudah berdua dengannya, entah
kenapa, aku seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, selalu menurut saja apa
perintah Andi. Aku sudah menjadi budak seks laki-laki itu kalo berdua
dengannya. Dan aku sudah berubah menjadi wanita yang binal dan nakal, tapi
herannya aku juga tidak peduli.
Sambil mencuci piring dan membereskan meja makan, aku berpikir dalam hati, ada
apa ya Novi kok menyuruh aku datang ke rumahnya? Tumben. Sempat terbersit rasa
khawatir, jangan-jangan Novi tahu hubungan gilaku dengan suaminya. Namun
melihat tingkah Novi tadi, sepertinya tidak ada apa-apa yang perlu
dikhawatirkan. Baiklah, aku akan berusaha bersikap wajar nanti.
***
“Masuk, Lin. Yuk sini, kita ngobrol di kamar. Aku punya oleh-oleh buatmu.” Novi
langsung menyeretku masuk ke dalam kamar tidurnya. Setelah itu ditutupya pintu
kamar.
“Oleh-oleh apa sih, Nov? Eh, Andi mana?“ aku hanya menurut saja dan sedikit
kebingungan dengan tingkah Novi.
Novi mengenakan kimono bermotif batik selutut, sepertinya dia baru saja mandi.
Tubuhnya juga harum, aku menduga mereka hendak pergi, dan sebelum pergi, ada
oleh-oleh yang mau diberikan kepadaku. Cuma aku heran, mau kemana mereka
malam-malam begini?
“Nah, ini, Lin, oleh-oleh buatmu, apik to? Ayo, coba pake sekarang!“ Novi
memberikan sebuah bungkusan kepadaku.
“Eh, Nov, apa ini?“ aku terkejut melihat pemberiannya. Sebuah baju tidur
berwarna putih yang sangat transparan dan tipis. Bagian bawahnya juga sangat
pendek, dan bagian dadanya sangat rendah. Sisi-sisinya dikelilingi oleh
renda-renda yang lembut, dan ada juga celana dalam semotif dan tentu saja
tipis. Rupanya sepasang dengan baju tidurnya.
“Wes to, ndak usah banyak tanya. Ayo copot copot bajumu, aku pengen lihat kamu
pake ini!” dipaksanya aku melepas bajuku.
Walaupun sedikit heran, akhirnya kubuka juga bajuku. “Eh, Andi mana, Nov?“
kembali aku bertanya, takut dipergoki saat aku sedang melepas baju.
“Di belakang. Sudah, kamu ndak usah takut, ndak bakal dia masuk. Ayo, buka BH
sama celana dalem kamu. Pake ini!” aku terkejut dan agak malu sebenernya, belum
pernah Novi seperti ini sebelumnya. Tapi aku turuti juga kemauannya. Kulepas
bra dan celana dalamku. Kini aku benar-benar polos di depan Novi.
“Wah, Lin, kamu emang bener-bener seksi, hehehe…” Novi memandangi payudaraku
yang membuncah indah. ”Ayo coba pake ini, aku pengen lihat!” diambilnya
pakaianku, lalu digantungnya di balik pintu, sementara aku mencoba baju tidur
pemberiannya.
Setelah kupakai, kami menuju kaca rias. Tampak di cermin, tubuhku memakai baju
tidur pemberian Novi. Ada perasaan malu tapi juga bangga, ternyata tubuhku
seksi kalo memakai pakaian seperti ini. Baru kali ini aku memakai baju super
tipis seperti ini. Buah dadaku nampak menyembul dan baju tidur ini ternyata
sangat pendek sehingga sebagian celana dalam yang menutupi kemaluanku jelas
terlihat.
“Seksi to? Wuiih, beruntung banget mas Herry dapetin kamu. Kalo dia lihat kamu
pake ini, pasti kontolnya langsung ngaceng, hehehe…”
“Ah, kamu ini bisa aja...” karena merasa malu dan gak enak kalo sampe Andi
masuk ke kamar, aku bermaksud untuk melepas baju ini.
“Wehh, kok dilepas? Kamu mau kemana? Entar dulu tooh...” aku terkejut karena
Novi melarangku. Aku jadi semakin bingung, apa lagi maunya dia. Tapi aku turuti
kemauannya.
“Eh, trus mau ngapain, Nov? Ntar kalo Andi masuk gimana?“ aku memberikan
alasan.
“Sudah, ndak usah mikirin Andi. Yuk kita ngobrol, aku kangen ngobrol sama
kamu!” diajaknya aku duduk di tempat tidur. Terus terang, aku agak canggung
memakai baju ini. Tetapi aku percaya Novi, jadi aku turuti saja permintaannya.
“Loh, kamu kok jadi kaku begitu, piye to iki? Kayak gak pernah main kesini aja!
Nyantai aja, Lin...”
Akhirnya kami selonjoran di atas tempat tidur Novi. Dia mulai bercerita soal
perjalannya ke luar kota kemarin. Karena risih, aku ijin padanya untuk menutupi
kakiku dengan selimut, tapi dilarangnya. Tentu saja aku heran, tapi aku mencoba
bersikap biasa saja.
“Tahu ndak, Lin, kemaren aku dapet barang bagus loh disana, hehe...”
“Maksudnya, Nov? Barang apa sih?“ aku penasaran.
“Mau lihat gak?“ tanyanya.
Aku hanya mengangguk dan penasaran. Terus terang aku heran, kok Novi jadi aneh
gini ya, gak seperti biasanya. Tiba-tiba dia menyalakan TV dan VCD player. Lalu
Novi mengambil plastik hitam dari dalam lemarinya dan dilemparkannya ke atas
kasur. Karena penasaran, aku lihat apa isinya.
“Lho, Nov, ini apaan?“ aku terkejut begitu mengetahui ternyata isinya adalah
beberapa DVD film porno, di sampulnya nampak gambar wanita-wanita mandarin
berpakaian tipis dan berpose cukup vulgar.
“Ini barang bagus, apik iki film e, Lin. Yuk kita tonton satu...”
“Eh, Nov…” aku kembali bingung, tapi aku hanya diam ketika Novi mulai memutar
salah satu film itu. Seumur-umur, baru sekali aku melihat film porno, itupun
dengan suamiku dan gak sampe selesai karena mas Herry sudah keburu gak tahan
dan langsung mengajakku bercinta. Kini Novi mengajakku nonton film porno, dan
aku makin deg-degan, ada apa ini? Tapi aku mencoba bersikap wajar.
Sekitar 20 menit kami berdua menonton film itu. Pemainnya orang mandarin, entah
China atau Jepang, aku tidak tahu. Tapi terus terang, birahiku sedikit terusik
melihat adegan saling bercumbu di film itu. Pemain lelakinya menciumi seluruh
tubuh wanitanya, lubang kemaluan wanitanya dijilati sampai si wanita mengalami
orgasme. Melihat itu, aku jadi merinding dan teringat permainan gilaku dengan
Andi, suami Novi, orang yang kini mengajakku menonton film porno ini.
“Kok diem aja, Lin, terangsang yo?” tiba-tiba tubuh Novi sudah merapat pada
tubuhku.
“Eh, Nov… aku pulang aja ya…” aku merasa malu, sehingga terlintas dipikiranku
untuk pulang saja.
“Eh, ntar dulu toh... filmnya aja belom abis, hehehe… udah ga kuat ya?” Novi
menggodaku.
“Ah, kamu ini bisa aja.”
“Aku terangsang lho, Lin, masa kamu ndak? Hayo, jujur…”
“Ehhh... Nov, a-ada a-apa…” aku terkejut saat tiba-tiba Novi mencium pipiku dan
mengelus bagian atas buah dadaku yang menyembul indah.
“Masa ndak boleh aku cium kamu, aku kan temenmu? Aku sayang sama kamu, Lin…”
kini Novi semakin berani. Tangannya sudah menyusup meraba puting buah dadaku.
“Nov, jangan...” aku mendadak bingung melihat perlakuan Novi kepadaku, tentu saja
aku menjadi risih.
“Sudah, nurut saja sama aku. Nih pentilmu sudah kaku, kamu terangsang toh?”
mendadak direbahkannya tubuhku, lalu sebagian tubuh Novi menindihiku. Dan
tangannya semakin buas meremas dan memainkan bulatan payudaraku.
“Noovvv...” tanganku berusaha menahan tangan Novi ketika ia menyentuh
kelaminku, tapi Novi tampaknya tidak perduli, disingkirkannya tanganku lalu
jari-jarinya memainkan kelentitku dengan lembut.
“Itilmu sudah basah, Lin, pasti enak kalo diemut. Boleh gak aku emut itilmu?”
kulihat wajah Novi berubah sayu dan tampak lain dari biasanya. Pikiranku
menjadi kacau. Aku bertanya dalam hati, ada apa dengan keluarga ini?
“Nov, aku… anu…” aku terbata-bata, bingung tidak tahu apa yang menimpaku ini.
“Sudah, kamu nurut saja. Masa cuma Andi aja yang boleh nyicipi memekmu. Mosok
aku ndak kamu casi? Aku kan juga pengen.”
“Hah?!” sontak aku terkejut mendengar perkataan Novi. Perasaan malu dan takut
bercampur menjadi satu. Novi ternyata tahu hubungan gilaku dengan Andi, tapi
aku kaget mengapa reaksinya seperti ini.
“Kamu sudah ngerasain enaknya kontol suamiku tooh? Sekarang gantian aku yang
menikmati memekmu...”
“Nov, aahhh…” aku gak tau mau berkata apa lagi, tubuhku rasanya kaku, bagai
disambar petir aku mendengar kalimat Novi.
Lalu yang bisa kulakukan hanya memejamkan mata, sambil dadaku berdegup kencang
sekali. Apakah ini nyata? Ah, aku tidak tahu, aku bingung.
“Lin, buka matamu. Ndak usah takut, ndak usah malu, aku udah tahu dari awal
kok. Ndak apa-apa, Lin, aku rela kok berbagi suami sama kamu. Tapi boleh kan
aku nyicipin tubuhmu yang montok ini?” bisik Novi.
Kubuka mataku, kulihat wajah Novi tepat berada di hadapanku. Tak terasa, aku
menangis, air mataku meleleh. “Maafin aku, Nov, aku…”
“Sudah, ndak usah nangis gitu. Aku maafin kamu dengan satu syarat, ijinkan aku
menikmati tubuhmu juga. Adil toh…” aku semakin bingung dengan permintaan Novi.
Tetapi akhirnya aku iyakan permintaannya, kuanggukkan kepalaku tanda setuju.
Pikirku, hanya ini yang dapat kulakukan, aku pasrah.
“Nah, gitu dong, pinter. Sekarang, ayo cium temenmu ini, sayang...” Novi
mendekatkan bibirnya.
Lalu kami berduapun berciuman dengan ganas, lidah kami saling memilin, tak
terasa air liur kami pun saling bertukaran. Walaupun aku merasa risih namun
kuputuskan untuk menikmati permainan ini. Sudah kepalang tanggung, pikirku. Aku
tak tahu mengapa semua ini bisa terjadi, tapi hanya ini yang bisa aku perbuat,
dan aku berusaha untuk menikmatinya.
Setelah cukup lama berciuman, tak terasa birahiku perlahan mulai naik. Novi sudah
melepas tali kimononya, ternyata ia tak memakai bra dan selana dalam. Lalu
dilepaskannya kimono itu hingga kini dia benar-benar telanjang bulat di
depanku. Payudaranya lebih besar dari punyaku, dan nampaknya masih kencang.
Begitu juga tubuhya, masih indah terawat.
Novi tidur menyamping di sebelahku dan memintaku untuk menghisap putingnya. Ini
pertama kalinya aku menghisap puting wanita. Kuhisap-hisap dan kujilat tonjolan
mungil itu. Aku meniru gaya Andi saat biasanya ia menjilati putingku. Entah
kenapa, tiba-tiba aku merasakan sensasi lain, sepertinya aku menikmati ini.
“Aaahhh... Lin, enak banget isepanmu. Pantes Andi ketagihan sama emutanmu.”
rintihan Novi semakin membuatku bergairah dan bersemangat untuk mencumbunya.
Entah pikiran apa yang melanda diriku saat ini, namun tanpa disuruh, aku
mencumbu Novi seperti biasanya Andi mencumbuku. Kujilati leher Novi dengan
buas, lalu turun ke perut, naik lagi menuju buah dadanya.
“Aaahhh... Liinnn, ennnaakhhh…” rintihnya pelan.
Tiba-tiba Novi bangun dan membalikkan badanku hingga sekarang aku kembali di
bawah dan Novi di atas. Kini gantian dia yang mencumbuiku.
“Aahh... mbaaak.” tak terasa, aku ikut mendesah. Yah, aku merasakan sensasi
lain, sensasi yang benar-benar luar biasa, dan kali ini dengan mantap kuputuskan
untuk ikut dalam permainan ini dan aku akan berusaha menikmatinya.
“Oooohhhh... mbaakk, ennnaakk…” aku meracau tidak karuan saat lidah Novi
menjilat-jilat bibir kelaminku. Buas sekali dia melahap kemaluanku yang sudah
basah itu.
“Aaahhhhh... ooohhh…” aku semakin meracau kegelian. Kini jari Novi sudah
mengocok-ngocok di dalam kelaminku, sementara bibirnya menggigit-gigit
kelentitku.
“Aaahhh… ahhhh…” tubuhku menggeliat tidak karuan, rupanya permainan lidah Novi
di kelentitku lebih hebat daripada Andi. Dan tentu saja hal ini membuatku makin
blingsatan keenakan.
“Aaaggghhhhh... Nooovv, a-aku... k-keluuaarrr... aahhh…” kemaluanku
berdenyut-denyut saat orgasmeku datang, nikmatnya benar-benar luar biasa.
Nafasku menjadi tersengal-sengal. Aku merasa belum pernah aku sebirahi ini,
senikmat ini. Ahh, aku sudah benar-benar sah menjadi wanita binal dan liar.
Tapi, aku tak peduli.
“Ssrruuppp… sllruupp…” Novi menghisap dan menelan seluruh cairan orgasmeku.
Setelah itu dia mencium bibirku dengan penuh nafsu, kubalas ciumannya dengan
penuh nafsu juga. Tercium aroma kemaluanku dari bibirnya, namun sekali lagi,
aku tak perduli.
“Sekarang gantian kamu jilatin memekku ya, gak jijik kan, sayang?” tanyanya.
“Ohh, tentu saja gak. Nov. Pasti memekmu enak banget ya…” kini aku sudah berani
ikut-ikutan bicara nakal, dan aku menikmatinya.
Novi setengah duduk di bagian atas kasur, kakinya dibuka mengangkang sehingga
nampaklah memeknya yang kelihatan sudah basah dan mengkilat. Membuatku tak
sabar untuk segera menjilatnya. Aku pun nungging, dengan kepala mengarah ke
memek Novi. Langsung kuhisap dan kujilati belahan sempit itu. Aku gak mau
kalah, aku juga ingin Novi merasakan apa yang tadi aku rasakan.
“Aaahhh... Liinnnn… pinter bangeett kamuu…” rintihnya sambil meremas-remas
payudaranya sendiri.
“Aaahhh... teruusss Liinnn... enakkhh banggetthhs... aghhh...” Novi terus
meracau keenakan sementara tangannya menahan kepalaku, menekannya semakin dalam
ke lubang memeknya. Mendengar racauannya, aku makin bersemangat menjilati memek
dan kelentitnya.
“Wah, udah mulai yah, hehehe… kok gak ngajak-ngajak sih, hehehe...?”
Sontak aku terkejut mendengar suara itu. Yah, itu suara Andi. Sejenak aku
terdiam, lalu aku mengangkat kepalaku. Aku sempat bingung harus berbuat apa.
“Loh, kok berhenti, Lin? Ayo dong lanjutkan, kan aku belom dapet… ndak apa toh
kalo Andi ikutan gabung sama kita? Biar rame...” aku terdiam mendengar omongan
Novi. Malah dalam hati aku berpikir: ah, sudah kepalang tanggung ini, dan
rasanya bener-bener nikmat, lebih baik aku teruskan saja.
Andi langsung mencopot bajunya dan naik ke atas kasur. Lalu dia berdiri di atas
kami berdua dengan batang kontolnya yang sudah menegang besar. Tanpa dikomando,
aku dan Novi segera melahap kontol yang besar itu. Berdua kami menjilati dan
menghisap batang Andi yang rasanya sungguh-sungguh nikmat. Nampak Andi
benar-benar keenakan, dua wanita sedang memanjakan kontolnya dengan
jilatan-jilatan lidah dan hisapan bibir.
Lalu kami mengambil posisi seperti tadi, Novi mengangkang di depanku, aku menjilati
memeknya, sementara kontol Andi menggenjot memekku yang nungging dari belakang.
Sore itu, aku terbangun. Kulihat jam di mejaku menunjukkan pukul
empat sore. Iseng aku memanjat dinding tembok pembatas kamarku, mau ‘melihat’
tetangga sebelahku. Melalui ventilasi, kulihat Mas Arif dan Mbak Nida sedang tidur-tiduran
sambil mengobrol di atas tempat tidur. Aku mengawasi terus, kulihat Mas Arif
hanya memakai singlet, begitu juga Mbak Nida yang hanya memakai baju dalam.
“Dasar pengantin baru, pasti mau main, ayo kapan mainnya?” pikirku mulai tak
sabar.
Kulihat Mas Arif dan Mbak Nida berbicara sambil berpelukan, aku kurang bisa
menangkap apa yang mereka bicarakan. Sesekali Mbak Nida tertawa cekikikan.
Beberapa kali pula aku amati Mas Arif meremas payudara Mbak Nida.
Lama aku menunggu, hingga akhirnya yang aku harapkan terjadi juga. Tiba-tiba
Mas Arif membuka celana pendeknya dan memegang tangan Mbak Nida, menyuruh
wanita itu memegang penisnya. Mbak Nida sepertinya menurut dan segera
memasukkan tangannya ke dalam celana sang suami, tetapi baru sebentar sudah ditariknya
kembali, tampaknya Mbak Nida menolak.
“Yahh, itu aja nggak mau, apalagi kalau disuruh karaoke.” desahku dalam hati,
kecewa.
Namun kekecewaanku terobati karena sejurus kemudian Mas Arif tiba-tiba bangkit
dari tempat tidur dan melepas celananya. Kini ia hanya bercelana dalam dan
bersinglet. Kemudian serta merta ia memeluk Mbak Nida. Aku tersenyum
kegirangan, keinginanku untuk melihat keduanya mengentot tampaknya akan
terpenuhi.
Tak lama, Mas Arif melepas pelukannya dan Mbak Nida pun mulai melepas
celananya. Kini sama seperti suaminya, Mbak Nida hanya bersinglet dan bercelana
dalam. Kulihat pahanya, putih dan mulus sekali.
Kemudian mendadak Mas Arif mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya. “Kecil
sekali, dibandingkan punyaku,” kataku dalam hati.
Mas Arif pun langsung menghimpit Mbak Nida, tampaknya Mas Arif akan
mempenetrasi Mbak Nida. Kulihat Mbak Nida memelorotkan celana dalamnya hanya
sampai sebatas paha. Sejurus kemudian aku melihat pelan Mas Arif memasukkan
penisnya ke dalam lubang vagina Mbak Nida yang tertutup bulu jembut. Setelah
penis Mas Arif masuk keseluruhannya ke dalam memek Mbak Nida, Mas Arif langsung
memeluk Mbak Nida sambil menciumnya bertubu-tubi. Itu dilakukan cukup lama.
Aku sedikit keheranan kenapa Mas Arif tidak melakukan genjotan, tidak
mendorong-dorong pinggulnya ? Mas Arif hanya diam memeluk Mbak Nida.
“Wah, ini pasti karena Mas Arif nggak tahan bermain lama, nggak seperti aku.”
kataku dalam hati, tertawa, merasa unggul dari Mas Arif. Disinilah aku mulai
melihat adanya kesempatanku untuk turut melakukan ’tumpangsari’ pada Mbak Nida.
Ditambah lagi, kejadian itu hanya berlangsung sangat singkat, sekitar 5 menit.
Meskipun kulihat Mbak Nida tetap bisa mencapai orgasmenya, tetapi cepat pula
Mas Arif menyusulnya. Aku menangkap kekecewaan di muka Mbak Nida, meski Mbak
Nida berusaha tersenyum setelah ’permainan’ itu, tapi aku yakin ia tidak puas
dengan permainan Mas Arif.
***
Peristiwa ’observasi awal’ hari kemarin itu membuatku mengambil kesimpulan, ada
kemungkinan aku menyetubuhi Mbak Nida dan merasakan nikmat tubuhnya, kalau
perlu aku juga akan menanam saham di tubuh Mbak Nida!
Itulah tekadku, aku mulai menyusun taktik. Mas Arif itu belum bekerja, ada
kesempatan bagiku untuk membuatnya berpisah cukup lama dari Mbak Nida. Apalagi
aku punya kenalan yang bekerja di perusahaan, namanya Toni.
Siang ini aku menjumpai Toni di kantornya.
“Hai, Bud, apa kabar?” tanya Toni sambil menjabat tanganku.
“Baik,” jawabku sambil tersenyum.
“Silahkan duduk.”
Setelah aku duduk di kursi kantornya yang empuk itu, aku mulai mengajukan
permintaan, “Ton, aku butuh bantuanmu.”
“Oh, itu semua bisa diatur, bantuan apa?”
“Aku butuh pekerjaan.”
“Bisa, bisa, kamu mau kerja di mana? Gaji berapa?”
“Oh, nggak! Maksudku bukan untuk diriku, tapi ini untuk orang lain.”
“Hm, memangnya untuk siapa?”
“Untuk temanku, Mas Arif. Kamu wawancarai, tempatkan di mana saja kamu suka,
nggak perlu tinggi-tinggi betul jabatannya.”
“Aneh. Tapi jika itu maumu, ya tidak apa-apa.”
“Yang penting kamu wawancarai dia cukup lama, beberapa kali.”
“Oke, baik kalau gitu.”
“Tapi nanti jadwal wawancaranya aku yang tentuin.”
“Terserah kamu.”
Maka mulailah aku menyusun jadwal wawancaranya, mulai lusa, hari rabu sampai
jum’at dari jam 07.00 sampai 10.00 pagi. Toni menyetujuinya, kemudian aku
permisi pulang.
Dalam perjalanan pulang, hatiku sangat senang, sudah terbayang nikmatnya tubuh
Mbak Nida itu. Sesampainya di kos-kosanku, aku langsung bertemu dengan Mas Arif
di tempat cuci, tampak Mas Arif sedang menyuci bajunya.
“Mas, saya ingin bicara sebentar.” kataku mulai membuka percakapan.
Mas Arif pun menoleh dan menghentikan pekerjaannya. “Ada apa, Bud?”
“Begini, saya dengar Mas Arif mencari pekerjaan, kebetulan tadi saya ke tempat
teman saya, dia perlu pegawai baru, dianya sih malas menaruh iklan di koran,
soalnya dia hanya butuh satu orang.” jawabku panjang lebar menjelaskan. Sedikit
berdebar-debar aku menunggu tanggapan, takut tawaranku ditolak.
Lama Mas Arif kulihat terdiam, merenung, lalu... “Hmmm, saya pikir dulu, sebelumnya
terima kasih ya!”
“Ya, Mas.” kataku dengan senyuman. Dalam hatiku, aku berpikir, “Habislah sudah
kesempatanku!”
Tapi setelah di dalam kamar, sekitar dua jam kemudian aku yang tertidur,
terbangun oleh ketukan di pintu. Aku lalu bangun, mengucek-ngucek mataku,
melihat dari jendela. Tampak Mas Arif berdiri menunggu. Aku pun cepat-cepat
membuka pintu.
“Wah, sedang tidur ya, kalau gitu nanti saja.” Mas Arif tiba-tiba permisi.
“Eee, nggak kok, Mas, saya sudah bangun nih.” kataku berusaha mencegah Mas Arif
pergi.
“Gangguin tidur kamu nggak?”
“Ndak, ndak kok, masuk aja.” kataku mempersilahkan.
Setelah kami berdua duduk di karpet kamarku, “Begini, ini soal lamaran kerja
yang kamu bilang itu, tempatnya di mana sih?” Mas Arif bertanya.
“Ooo, itu di Kaliurang km 7 nomor 14, nama perusahaannya DHL, nggak jauh kok.”
“Syaratnya gimana?”
“Saya kurang tau juga tuh, Mas Arif pergi saja ke sana. Temui teman saya, Toni,
katakan Mas butuh pekerjaan, tahunya dari Budi.”
“Wah, kok rasanya kurang enak ya, seperti nepotisme saja.” Mas Arif sepertinya
keberatan.
“Enggak… Nggak kok, perusahaannya besar. Mas kesana juga belum tentu diterima.
Mas tetap melalui tes dulu.” kataku meyakinkan Mas Arif.
“Hmm, baiklah, tak coba dulu, jam berapa ya ke sana?”
“Sekitar jam kerja saja baiknya, jam 07.00 pagi saja.” kataku menyarankan.
Mas Arif hanya mengangguk tersenyum, lalu permisi seraya tak lupa berterima
kasih kepadaku. Aku hanya tersenyum, berarti selangkah lagi keinginanku
tercapai.
***
Hari ini selasa, sesuai prediksiku, Mas Arif pagi-pagi sudah berangkat, dan
sekitar jam 11.00 siang baru pulang.
Aku menuju ke kamarnya, lalu mengetuk pintu, “Assalamu’alaikum,” aku memberi
salam.
“Wa’alaikumussalam,” terdengar jawaban Mas Arif dari dalam kamarnya.
Lama baru pintu dibuka, dan Mas Arif mempersilahkanku untuk masuk. Kulihat di
dalam kamarnya, istrinya tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan memakai
jilbab putih, tersenyum padaku. Mbak Nida tampak cantik sekali.
“Bagaimana, Mas, tadi?” tanyaku.
“Oh, nanti saya disuruh ke sana lagi, besok, untuk test wawancara.”
“Alhamdulillah, tak do’ain supaya berhasil.”
“Terima kasih.”
Setelah berbasa-basi cukup lama, aku pun permisi.
“Eh, nanti dulu, kamu khan belum minum.” Mas Arif berusaha mencegahku. “Ayo,
Nid, buatkan air minumnya dong.” perintah Mas Arif menyuruh istrinya, Mbak
Nida.
Aku menolak dengan halus, “Ah, nggak usah, Mas, saya sebentar aja kok, ada
urusan.”
“Oh, baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya.”
Aku tersenyum mengangguk, kulihat Mbak Nida tidak jadi membuat minuman. Aku pun
pergi ke kamarku, riang karena sebentar lagi ’adikku’ akan bersarang dan
menemukan pasangannya.
***
Hari ini rabu, Mas Arif sudah berangkat dan meninggalkan Mbak Nida sendirian di
kamarnya. Rencana mulai kulaksanakan. Aku membongkar beberapa koleksi vcd
pornoku, memilih salah satunya yang aku anggap paling bagus, vcd porno dari
Indonesia sendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah jambu.
Kemudian sambil membawa bungkusan vcd itu, aku menuju ke kamar tetanggaku,
mengetuk pintu, “Assalamu’alaikum,” aku memberi salam.
Lama baru terdengar jawaban, “Wa’alaikum salam,” jawaban Mbak Nida dari dalam
kamar itu. Pintunya pun terbuka, kulihat Mbak Nida melongokkan kepalanya yang
berjilbab itu dari celah pintu, “Ada apa ya?” tanyanya.
“Ini ada hadiah dari saya, saya mau memberikan kemarin tetapi lupa.” kataku
sambil menunjukkan bungkusan vcd itu.
“Oh, baiklah.” kata Mbak Nida sambil bermaksud mengambil bungkusan di tanganku
itu.
“Eee, tunggu dulu, Mbak, ini isinya vcd, saya mau lihat apa bisa muter nggak di
komputernya Mas Arif.” kataku mengarang alasan.
Sedikit keberatan kelihatannya, akhirnya Mbak Nida mempersilahkanku untuk
masuk, aku yakin dia juga kurang ngerti tentang komputer.
Di dalam kamar, aku menghidupkan komputer dan mengoperasikan program vcd
playernya, lalu kumasukkan vcd-ku itu dan kujalankan. Sesuai dugaanku vcd itu
berjalan bagus.
“Mbak nggak pingin nonton?” tanyaku sambil melihat Mbak Nida yang sedari tadi
duduk di belakang memperhatikanku.
“Film apa sih?” tanya Mbak Nida kepadaku.
“Pokoknya bagus.” jawabku sambil kemudian memberikan petunjuk bagi Mbak Nida,
bagaimana cara menghentikan player dan mematikan komputernya.
Mbak Nida hanya mengangguk, lalu kupermisi untuk pergi mumpung filmnya belum
masuk ke bagian ’intinya’. Pintu kamar tetanggaku itu pun kembali ditutup. Aku
bergegas ke kamarku, mau mengintip apa yang dilakukan Mbak Nida.
Setelah di kamarku, melalui ventilasi, kulihat Mbak Nida menonton di depan
komputer. Dia tampaknya kaget begitu melihat adegan porno langsung hadir di
layar monitor komputer itu. Dengan cemas aku menantikan reaksinya.
Menit demi menit berlalu hingga sudah 15 menit kulihat Mbak Nida masih tetap
menonton. Aku senang, berarti Mbak Nida menyukainya. Lalu terjadi sesuatu yang
lebih dari harapanku, tangan Mbak Nida pelan masuk ke dalam roknya, dan
bergerak-gerak di dalam rok itu.
“Hhh… Hhhh… Ooohhh… Ooohhh...” suara Mbak Nida mendesah-desah, tampaknya
merasakan kenikmatan.
Aku kaget, “Wah, hebat. Dia masturbasi.” kataku dalam hati. Ingin aku masuk ke
kamar Mbak Nida, memeluknya dan langsung menyetubuhinya, tetapi aku sadar, ini
perlu proses.
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengintip, dan berinisiatif mengukur
kemampuanku. Akupun mulai melakukan onani dengan memain-mainkan penisku.
Film di komputer itu terus berjalan, hingga telah hampir 1,5 jam lamanya,
pertanda film itu akan habis dan Mbak Nida kulihat sudah empat kali orgasme,
luar biasa. Dan ketika filmnya berakhir, Mbak Nida ternyata masih meneruskan
masturbasinya hingga menggenapi orgasmenya menjadi lima kali.
“Akkkhhhhhhh…” Mbak Nida terpekik pelan menandai puncak kenikmatannya.
Sesaat setelah orgasme Mbak Nida yang kelima, aku pun ejakulasi. “Oooorghhhh…”
suara beratku mengiringi luapan sperma di tanganku. Aku senang sekali, berarti
aku lebih tangguh dari Mas Arif dan bisa memuaskan Mbak Nida nantinya karena
bisa orgasme dan ejakulasi bersamaan.
Kemudian Mbak Nida sesuai petunjukku, kulihat mengeluarkan vcdnya dan mematikan
komputer.
***
Setelah siang hari, Mas Arif baru pulang. Sedikit berdebar-debar aku menunggu
perkembangan di kamar tetanggaku itu, takut kalau-kalau Mbak Nida ngomong
macam-macam soal vcd itu, bisa berabe aku!
Tetapi lama, kelihatannya tak terjadi apa-apa. Kembali aku mengintip lewat
ventilasi, apa yang terjadi di sebelah.
Begitu aku mulai mengintip, aku kaget! Karena kulihat Mbak Nida dalam keadaan
hampir bugil, hanya memakai celana dalam, dihimpit oleh Mas Arif, mereka
bersetubuh! Namun seperti yang dulu-dulu, permainan itu hanya berlangsung
sebentar dan tampaknya Mbak Nida kelihatan tidak menikmati dan tidak bisa
mencapai orgasme. Bahkan aku melihat Mbak Nida seringkali kesakitan ketika
penetrasi atau ketika payudaranya diremas.
“Ah, Mas Arif nggak pandai merangsang sih,” pikirku.
Bagaimanapun aku senang, langkah keduaku berhasil, membuat Mbak Nida tidak bisa
lagi mencapai orgasme dengan Mas Arif. Prediksiku, Mbak Nida akan sangat
tergantung pada vcd itu untuk kepuasan orgasmenya, sedangkan cara menghidupkan
vcd itu hanya aku yang tahu, disinilah kesem-patanku.
***
Kamis, pukul 08.00. Aku bangun dari tidur, mempersiapkan segala sesuatunya,
karena hari ini bisa jadi saat yang sangat bersejarah bagiku. Kemarin aku telah
mengintip Mbak Nida dan Mas Arif seharian, mereka kemarin bersetubuh hanya dua
kali, itupun berlangsung sangat cepat, dan yang penting bagiku, Mbak Nida tidak
bisa orgasme.
Malam kemarin aku juga sudah bersiap-siap dengan minum segelas jamu kuat, yang
bisa menambah kualitas spermaku.
Pagi itu, setelah aku mandi, aku berpakaian sebaik mungkin, parfum beraroma
melati kuusapkan ke seluruh tubuhku, rambutku juga sudah disisir rapi. Lalu
dengan langkah pasti aku melangkah ke tetangga sebelahku, Mbak Nida yang sedang
sendirian.
Kembali aku mengetuk pintu kamarnya pelan, “Assalamu’alaikum,” aku mem-beri
salam.
“Wa’alaikum salam,” suara lembut Mbak Nida menyahut dari dalam kamar.
Mbak Nida pun membuka pintu, kali ini ia berdiri di depan pintunya, tidak
seperti kemarin yang hanya melongokkan kepala dari celah pintu yang sedikit
terbuka. Dia memakai jilbab pink dengan motif renda, manis sekali.
“Oh ya, saya lupa memberitahukan cara menghidupkan vcd kemarin.” kataku sambil
tersenyum.
Tiba-tiba raut muka Mbak Nida menjadi sangat serius, “Kamu kurang ajar ya, masa
ngasih vcd porno gituan ke Mbak.” kata Mbak Nida sedikit keras.
Aku kaget, ternyata ia marah, pikirku. Lalu cepat aku mengarang alasan, “Oh,
maaf, Mbak, vcdnya yang hadiah itu, isinya film soal riwayat Nabi-Nabi buatan
TV3 Malaysia, maaf kalau tertukar. Yah saya ambil saja lagi.”
Mbak Nida masuk ke dalam kamarnya, ia tampak kecewa. Aku senang, berarti ia
takut kehilangan vcd itu. Lalu aku pun masuk ke kamarnya melalui pintu yang
sedari tadi terbuka.
Mbak Nida kaget, melihatku mengikuti langkahnya, “Eh, kamu kok ikut masuk
juga?!”
Sambil menutup pintu, tenang aku menjawab, “Alaa… Mbak jangan munafiklah, toh
Mbak juga menyukai vcd porno itu. Saya lihat Mbak sampai masturbasi segala.”
“Kurang ajar kamu! Keluar! Kalau tidak saya akan berteriak!” bentak Mbak Nida.
“Mbak jangan marah dulu, coba Mbak pikirkan lagi, sejak menonton vcd itu, Mbak
tidak bisa lagi orgasme dengan Mas Arif khan?” kataku sambil merebut vcd itu
dan mematahkannya.
Mbak Nida terkejut, “Kamu…”
Tak sempat ia menyelesaikan kata-kata, aku memotongnya, “Saya bersedia memberikan
kepuasan kepada Mbak Nida, saya jamin Mbak Nida bisa orgasme bila main dengan
saya.”
“Kurang ajar! Keluar kamu!”
“Ee, tidak segampang itu. Ayolah, Mbak Nida jangan marah, pikirkan dulu, saya
satu-satunya kesempatan, bila Mbak Nida tidak memakai saya, seumur-umur Mbak
Nida nggak akan pernah mencapai orgasme lagi.” aku mulai menghasutnya.
Mbak Nida terdiam sebentar, aku senang dan berpikir ia mulai termakan rayuanku,
tapi… “Tidak! Kata Mbak tidaaak! Sekarang keluar kamu!”
Aku gemetar, tapi tetap berusaha, “Mbak sebaiknya pikirkan lagi, disini cuma
saya yang mengajukan diri memuaskan Mbak, saya satu-satunya kesempatan Mbak,
kalau Mbak tidak mengambil kesempatan ini, Mbak akan rugi!” kataku sedikit
tegas.
Lama kulihat Mbak Nida terdiam, bahkan dia kini terduduk lemas di samping
ranjangnya. Aku pura-pura mengalah… “Yah, sudahlah, jika Mbak tidak mau, saya
pergi saja, saya itu cuma kasihan ngelihat Mbak!” kataku sambil beranjak pergi.
Tetapi kulihat Mbak Nida hanya diam terduduk di ranjangnya, aku membatalkan
niatku, pintu yang telah terbuka kini kututup lagi dan kukunci dari dalam.
Perlahan aku mendekati Mbak Nida, kulihat ia menangis.
“Mbak, jangan menangis, tidak ada maksud saya sedikitpun menyakiti Mbak.”
kataku sambil mulai menyeka air matanya dengan tanganku.
Lalu pelan-pelan kupegang pundak Mbak Nida dan kudorong pelan dia agar
berbaring di ranjang. Ternyata Mbak Nida hanya menurut saja, aku kesenangan,
rayuanku berhasil meruntuhkan pendiriannya.
Kemudian aku mulai membuka resleting celana panjangnya, ia tampaknya menolak,
tetapi aku dengan santai menepis tangannya dan memasukkan tanganku ke dalam
celananya. Tanganku masuk ke dalam kolornya, lalu langsung jariku menuju ke
tengah ‘lubang’ birahinya. Aku sudah terburu nafsu, mencucuk-cucukkan jemariku
ke dalam lubang itu berkali-kali.
“Akhhh… Aakhhh… Aahhhhhh…” desahan Mbak Nida mengiringi setiap tusukan
jemariku.
Aku ingin membuatnya terangsang dan mencapai orgasme. Lalu dengan cepat kutarik
celana panjang dan kolornya, sehingga terlihatlah pahanya yang putih dan mulus,
aku langsung mencium paha mulus itu bertubi-tubi, menjilat paha putih Mbak Nida
dengan merata. Akupun mengincar kelentit Mbak Nida yang tersembul ke luar dari
bagian atas memeknya.
Langsung aku kulum kelentit itu di dalam mulutku, “Elmm… Mmmmm… Emmmm...” dan
lidahku menari-nari di atasnya, terkadang kugigit pelan-pelan berkali-kali.
“Akhh… Oooohhhh… Aaaahhhhh...” suara Mbak Nida mendesah kuat tanda terangsang.
Jemari tanganku semakin kupercepat menusuk memek Mbak Nida dan lidahku makin
menggila menari-nari di atas kelentitnya yang berwarna merah jambu itu.
Perlahan kubimbing Mbak Nida mencapai puncaknya, hingga akhirnya…
“Aaaaaaakkkhhhhhh…” pekikan pelan Mbak Nida mengiringi orgasmenya.
Kulihat jemari tanganku basah, bukan karena liurku tetapi karena cairan vagina
Mbak Nida yang orgasme. Aku mencium vagina itu, tercium bau khas cairan vagina
wanita yang orgasme.
Aku tersenyum, hatiku senang karena bisa membawa Mbak Nida mencapai orgasmenya.
Tetapi aku tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah memelankan tusukan
jariku, kini tusukan itu kembali kupercepat.
“Ahhh… Aahhhh… Yaah… Yaahh…” suara Mbak Nida mulai meracau.
Sementara tangan kiriku beroperasi di vagina Mbak Nida, tangan kananku mulai
meremas blus Mbak Nida, dengan cepat tangan kananku merobek blus itu dan
menarik kutangnya hingga menyembullah payudara Mbak Nida yang indah membukit.
Kemudian aku menghisap kedua puting itu sambil tangan kananku meremas payudara
Mbak Nida bergantian, “Slurrpp… Slrrrrpp… Slluuurpp...” aku menghisap puting
Mbak Nida, sementara desahan Mbak Nida terdengar halus di telingaku.
“Akhh… Teruuss… Teruuusss…” sementara tangan kiriku tetap beraksi di vagina
Mbak Nida, dan vagina itu semakin becek, “Crrtt… Crrtt… Slrrpp…”
Kini mulutku mulai merangkak maju menuju bibir Mbak Nida yang mendesah-desah,
begitu wajah kami bertatapan, kulumat bibir mungil itu dalam-dalam, Mbak Nida
sedikit kaget.
“Ohhh… Ooomlmmm… Elmmmm…” Mbak Nida tidak bisa lagi bersuara, karena bibirnya
telah kulumat, lidahnya kini bertemu dengan lidahku yang menari-nari.
Aku memang berusaha membimbing Mbak Nida agar orgasme untuk kedua kalinya. Agar
di saat orgasmenya itu aku bisa memasukkan penisku, mempenetrasi vaginanya.
Karena aku sadar penetrasi itu akan sangat sakit karena ukuran penisku lebih
besar dari punya Mas Arif yang biasa masuk kesitu.
Sambil mencium dan merangsang memek Mbak Nida, tangan kananku mulai melepas
celana panjang dan kolorku, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai. Tangan
kananku mengelus-elus kontolku yang terasa mulai mengeras.
Tak lama, akhirnya Mbak Nida mencapai orgasmenya yang kedua kali,
“Ooorrggghhhhh…” dia mengerang, tetapi belum selesai erangannya, aku langsung
menusukkan penisku pelan-pelan ke dalam vaginanya.
“Aaaaaahhhhh…” suara Mbak Nida terpekik, matanya sayup-sayup menatap syahdu ke
arahku, aku tersenyum.
Aku pun mengambil posisi duduk dan mengangkangkan kedua paha Mbak Nida dengan
kedua tanganku, lalu kulakukan penetrasi kontolku pelan-pelan lama kelamaan
menjadi semakin cepat. Bunyi kecipak pun mulai terdengar, “Sllrrttt… Cccrrttt…
Cccrrplpp…” suara becek itu terus berulang-ulang seiring dengan irama
tusukanku.
“Akhhh… Yaaahh… Terus…” suara desahan Mbak Nida keenakan. Aku pun semakin
mempercepat tusukan, kini kedua kakinya kusandarkan di pundakku, pinggul Mbak
Nida sedikit kuangkat dan aku terus mendorong pinggulku ber-ulang-ulang.
Sementara dengan sekali sentakan kulepaskan jilbabnya, tampaklah rambut hitam
sebahu milik Mbak Nida yang indah, sambil menggenjot aku membelai rambut hitam itu.
“Ahhh… Aahhh… Aaaahhh…”
“Ohhh… Oohhhh… Hhhhh…”
Suara desahanku dan Mbak Nida terus terdengar bergantian seperti irama musik
alam yang indah.
Setelah lama, aku mengubah posisi Mbak Nida, badannya kutarik sehingga kini dia
ada di pangkuanku dan kami duduk berhadap-hadapan, sementara penisku dan
vaginanya masih menyatu.
Tanganku memegang pinggul Mbak Nida, membantunya badannya untuk naik turun.
Kepalaku kini dihadapkan pada dua buah pepaya montok nan segar yang bergelayut
dan tergoyang-goyang akibat gerakan kami berdua. Langsung kubenamkan kepalaku
ke dalam kedua payudara itu, menjilatnya dan menciumnya bergantian.
Tak kusangka genjotanku membuahkan hasil, tak lama…
“Oooohhhhhhh…” lenguhan panjang Mbak Nida menandai orgasmenya yang ketiga,
kepalanya terdongak menatap langit-langit kamarnya saat pelepasan itu terjadi.
Aku senang sekali, kemudian kupelankan genjotanku dan akhirya kuhentikan
sesaat. Lama kami saling bertatap-tatapan, aku lalu mencium mesra bibir Mbak
Nida dan Mbak Nida juga menyambut ciumanku, jadilah kami saling berciuman
dengan mesra, oh indahnya.
Tak lama, aku menghentikan ciumanku, aku kaget, Mbak Nida ternyata menangis!
“Kenapa, Mbak? Saya menyakiti Mbak ya?!” tanyaku lembut penuh sesal.
Masih terisak, Mbak Nida menjawab, “Ah, nggak, kamu justru telah membuat Mbak
bahagia.”
Kami berdua tersenyum, kemudian pelan aku baringkan Mbak Nida. Perlahan aku
mengencangkan penetrasiku kembali. Sambil meremas kedua payudaranya, aku
membolak-balikkan badan Mbak Nida ke kiri dan ke kanan. Kami berdua mendesah
bergantian.
“Ahhh… Aahhh… Aaaahhh...”
“Ohhh… Ohhhh… Hhhhh...”
Terus… lama, hingga akhirnya aku mulai merasakan urat-uratku menegang dan
cairan penisku seperti berada di ujung, siap untuk meledak. Aku ingin
melakukannya bersama dengan Mbak Nida. Untuk itu aku memeluk Mbak Nida,
menciumi bibirnya dan membelai rambutnya pelan. Usahaku berhasil karena
perlahan Mbak Nida kembali terangsang, bahkan terlalu cepat.
Dalam pelukanku, kubisikkan ke telinga Mbak Nida, “Tahan… Tahan… Mbak, kita lakukan
bersama-sama ya,”
“Ohhh… Oohhh… Oohhhh… Aku sudah tak tahan lagi.” desah Mbak Nida, kulihat
matanya terpejam kuat menahan orgasmenya.
“Pelan-pelan saja, Mbak, kita lakukan serentak.” kataku membisik sambil
kupelankan tusukan penisku.
Akhirnya yang kuinginkan terjadi, urat-urat syarafku menegang, penisku makin
mengeras. Lalu sekuat tenaga aku mendorong pinggulku berulang-ulang dengan
cepat.
“Akhhh… Oooohhh… Oohhh...” suara Mbak Nida mendesah. Kepalanya tersentak-sentak
karena dorongan penisku.
“Lepaskan… Lepaskan… Mbak, sekarang!” suaraku mengiringi desahan Mbak Nida.
Mbak Nida menuruti saranku, diapun akhirnya melepaskan orgasmenya,
“Aaaakkhhhhh…”
“Ooorggghhhhh…” suara berat menandakan ejakulasiku, mengiringi orgasme Mbak
Nida. Erat kupeluk ia ketika pelepasan ejakulasi itu kulakukan.
Setelah permainan itu, dalam keadaan bugil aku tiduran telentang di samping
Mbak Nida yang juga telanjang. Mbak Nida memelukku dan mencium pipiku
berkali-kali seraya membisikkan sesuatu ke telingaku, “Terima kasih, Bud.”
Jika malam itu adalah malam sial bagiku, mungkin benar… pasalnya
siangnya Puspa istriku berangkat ke Semarang dijemput mas Tono kakak lelakinya,
untuk menghadiri pernikahan sepupu mereka, sedangkan aku memang ga ikut karena
ga mungkin meninggalkan tugas kantor yang memang sedang tinggi loadnya di akhir
tahun ini… Yang pertama malam ini aku bakal kesepian di rumah, yang kedua baru
tadi pagi menstruasi Puspa istriku berhenti, seharusnya malam ini aku dapat
jatah setelah selama hampir seminggu kejantananku ga ketemu musuh … Makanya
sepulang kantor aku mampir ke Glodok tempat yang memang sehari-hari aku lewati…
kubeli beberapa filem bokep… pikirku lumayan untuk menghabiskan week end ini….
Menjelang memasuki gerbang perumahan yang masih sepi dari penghuni ini, hampir
aku mengumpat keras, ketika ingat kalao DVD playerku masih berada di tukang
service yang seharusnya sudah bisa diambil beberapa hari yang lalu dan
sekarang, gila aja kalau aku harus putar balik menembus kemacetan Jakarta hanya
untuk mengambil benda itu…. Aaaah… aku ingat mas Budhi satu-satunya tetangga
terdekatku yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku, aku bisa pinjam dia…
kembali aku bernafas lega. Sehabis mandi, segera aku bertandang ke rumah
sebelah, aku sempat heran, ga biasanya masih jam 20.30 ruang tamunya sudah
gelap, padahal mobil Avanza hitam miliknya ada di rumah, berarti mas Budhi ada
dirumah… simpulku sederhana…
“ Mas Budhii… maaas…” panggilku dari luar pagar, sesekali kuketok-ketokkan
gembok ke pagar besi, sehingga terdengar suara besi beradu nyaring… Agak lama
kulihat lampu ruang tamu menyala, tapi pintu tidak segera dibuka, kulihat tirai
sedikit tersingkap dan ada yang mengintip dari dalam, tumben pake diintip
segala…. Biasanya mas budhi langsung buka pintu.
“ Eeeiii… Bimooo… sorry ya…ayo masuk pagar ga dikunci kan..?” seru suara wanita
yang sangat aku kenal, mbak Astrid istri mas Budhi keluar dari pintu dengan
pakaian tidurnya dilapisi sweater
“ Lho mas Budhi mana mbak… sudah tidur..? waduu jadi ngganggu neeh..?” kataku
agak kikuk ketika aku sudah duduk di ruang tamu itu mas Budhi ga muncul..
“ Mas Budhi sedang tugas ke Medan Bim… eh mau minum apa neeh..?” mbak Astrid
wanita berwajah cantik ini menawarkan minum yang membuatku semakin jengah untuk
duduk berlama-lama disitu, pasalnya mba Astrid dengan pakaian tidur yang tipis
memperlihatkan bayangan celana G-String putihnya… aku yakin bagian atas jika
tak tertutup sweater akan membayang BH nya… atau mungkin ga pake… yang aku tahu
ibu ini buah dadanya sangat montok… Sebenarnya antara aku dan mbak Astrid sudah
akrab sekali, bahkan kalo bercanda kadang-kadang agak seronok… tapi itu justru
jika ada di depan mas Budhi atau ada Puspa istriku.. ketika berdua begini aku
jadi kaya mati angin… sementara mba Astrid masih bersikap wajar…
“ Waah.. ga usah repot-repot mbak… aku hanya mau pinjem DVD player aja kalo
bisa…” kataku dengan agak sungkan…
“ Ada kok Bim… bentar aku lepasin kabel-kabelnya yah… sendirian di rumah… mau
nonton film jorok ya..?” Tebak mbak Astrid yang tengah berlutut di lantai
mencabuti kabel DVD player yang berada dibawah kolong membelakangiku sehingga
pantatnya yang montok itu ngepress di baju tidurnya yang tipis dengan celana
G-String, terlihat pantat montok itu bagaikan tanpa celana…mau ga mau
kejantananku yang sudah seminggu ga ketemu musuhnya merespon positif… mulai
menggeliat bangun.
“ Waaah… eeehhh… anuu… buat nonton video pengantin temen yang baru diedit”
jawabku sempat gagap…
“ Alllaaaaaa… ga usah ngelesslaaah… iya juga gapapa… udah gede ini…haa..haaa..”
potong mbak Astrid sambil meletakkan benda elektronik tipis ini di meja… dengan
posisi aga menunduk ini mataku menangkap dua gundukan montok putih mulus tanpa
lapisan dari sela-sela sweaternya di dalam daster yang memang berleher rendah…
dan mbak Astrid seolah ga merasa akan hal itu…
“ Haaa…haaa… mbak Astrid nuduh neeh… nonton bokep sendirian ga seru… kalo
ditemenin mbak Astrid baru seruuu…” jawabku mulai terbawa gaya sembarangannya
mbak Astrid…
“ Heeee..??? bener ya Bim..? seumur-umur aku belom pernah nonton bokep… soalnya
mas Budhi ga pernah ngasih… kamu ada kan filemnya..?” cerocos mbak Astrid tanpa
bisa kujawab… dan sebelum aku bisa jawab…
“ Ya udah sana kamu duluan aku ngunciin pintu sama matiin lampu dulu….” Tanpa
menunggu jawabanku ibu muda ini sudah menghilang ke belakang…
Dengan gontai aku melangkah pulang sambil nenteng DVD player milik mba Astrid…
pikiranku jadi kacau, karena mba Astrid kepengen ikut nonton bokep sama aku…
Sampai dirumah sambil masangin kabel-kabel ke monitor aku bingung sendiri… aku
bakal mati gaya, nonton bokep berduaan dengan istri orang… Lain semasa bujangan
dulu, kalo nonton bokep justru cari pendamping yang bisa dijadikan pelampiasan…
Lulu anak Fakultas Psikologi, pendampingku setia nonton bokep… ujung-ujungnya
kami saling melampiaskan walaupun hanya sampe oral sex… Lulu ga mau aku
setubuhi, katanya waktu itu dia masih perawan… Trus beberapa lagi Titiek,
Anita, Mimi… kalo mereka bertiga memang sudah dapat predikat ayam kampus.
Bahkan pernah aku dikeroyok mereka bertiga semaleman…
“ Heeeiii aku datang…! ko malah ngelamun Bim…?” Suara mba Astrid membuyarkan
lamunanku. Mba Astrid datang dengan membawa tentengan berupa beberapa minuman
kaleng dan makanan kecil..
“ Busyeeet bekelnya banyak bener…? Mau sampe pagi…?” seruku untuk menetralisir
kebingunganku… Waddduuu… aku pikir mba Astrid tadi berganti baju yang lebih
pantas, ternyata masih menggunakan baju tidur yang sama… ini namanya sial atau
keberuntungan siiih..???
“ Heh..? siapa tau sampe pagi…? Bim aslinya… sebelum kamu datang tadi aku di
dalam rumah sendirian, tuh takut… tau ga siih..? sepi bangeeet… makanya aku
bawa banyak bekel, ntar kita ngobrol aja sampe pagi… setuju..?” celoteh mba
Astrid panjang lebar bener-bener ga berubah sikapnya, ada atau ga ada suaminya…
“ Sekarang mau nonton yang mana dulu..? silakan nyonya Astrid menentukan
pilihan…” kataku sambil menyodorkan segepok piringan DVD lengkap dengan
sampulnya…
Pilihan mba Astrid rupanya tepat, pilihan filmnya masih yang XX… jadi sewaktu
nonton kami masih bisa sambil santai bercanda mengkomentari adegan demi adegan,
walaupun 2 jam kemudian setelah film pertama selesai aku lihat wajah mba Astrid
agak memerah dan sesekali merapatkan sweaternya seolah-olah menyembunyikan
dadanya yang montok….
“ Mmm… apa sih yang dikuatirkan mas Budhi dengan aku nonton Bokep, kalo
beginian sih ga begitu ngaruh aku rasa Bim…?” kata mba Astrid sedikit arogan..
sambil milih-milih lagi film yang akan ditonton berikutnya…
“ Yang bener aja deeeh Nyonya Astrid..?? kalo nontonnya sama suami orang..?”
Jawabku menggodanya.. entah kenapa aku bisa menemukan panggilan Nyonya Astrid
untuknya yang selama ini ga pernah muncul..
“ Haa… haaa… suami Puspa sih anak kemaren sore mana berani macem-macem..?”
sahutnya setengah menantang dengan bibir manisnya dicibirkan padaku… Memang
usia mba Astrid lebih tua 2-3 tahun dari aku, makanya sering ledekannya
kepadaku selalu menyangkut umur dan apalagi memang wajahku kata orang adalah
baby face, innocent… seandainya orang tau kelakuanku di jaman kuliah dulu…
pernah kencan ranjang dengan dosen manajemen… pernah pacarin anaknya sekaligus
nidurin mamanya… ibu kospun pernah aku embat… mungkin akan lain kesannya padaku
dan kebetulan Puspa istriku aku dapatkan ketika aku sudah di Jakarta dan sama sekali
tak tahu masa laluku yang brengsek…
“ Biim… iihh asyik banget tuh mereka yak..?” Gumam mba Astrid yang memang dasar
mulutnya ga bisa diem… melihat adegan pose 69 kayanya heran banget…
“ Emang kamu belum pernah mba..?” sahutku polos…
“ Eeeh… enggak… no comment.. sssst diem aja ya sekarang..” kudengar mba Astrid
menjawab gagap dan suaranya agak bergetar…. Benar saja suasana jadi hening,
apalagi volume film memang kecil supaya ga kedengaran dari luar…. Tapi kini
yang aku dengar adalah suara nafas mba Astrid yang tidak teratur, seolah-olah
terengah-engah… sedangkan aku juga sudah terhanyut dengan adegan syuuur yang
terpampang di monitor dan film kali ini adalah XXX… celana pendekku yang
gombrong, di bagian selangkanganku sudah menggembung akibat batang kemaluanku
sudah menegang kencang, makanya kutumpangkan bantalan kursi agar ga terlihat
oleh mba Astrid… awalnya aku ga begitu memperhatikan mba Astrid, karena aku
sangat terbawa oleh adegan dan wajah-wajah seksi di film itu… tapi beberapa
kali kudengar mba Astrid menghela nafas panjangnya… dan beberapa kali merubah
posisi duduknya, seolah gelisah… mulailah aku memperhatikan tingkah wanita yang
menahan gejolak birahi…. kulihat sering nyonya muda ini meregangkan jari-jari
tangannya…. dan kulihat wajah yang cantik berkulit putih ini makin memerah,
seperti layaknya orang habis minum arak… Satu setengah jam berlalu… sesekali
kulirik mba Astrid yang duduk di sebelahku persis… kegelisahannya kulihat
semakin hebat… dan hilang sudah komentar-komentar konyolnya seperti pada film
pertama… Pada suatu saat menjelang film ini selesai… mata kami bertemu pandang…
kulihat sorot mata yang aneh dari mba Astrid… sementara kurasa matakupun sudah
aneh juga… dimata mba Astrid..
“ Biiiiiimmmm….” Kudengar suaranya mendesah memanggil namaku
“ Ya mbaa…” jawabku tak kalah lirih, dalam pandanganku saat itu yang
dihadapanku bukanlah Astrid sebagai wanita yang sudah kukenal baik…tetapi
Astrid sebagai wanita yang sangat menggairahkan sedang menggelar libidonya…
entah siapa yang memulai… tahu-tahu tangan kami sudah saling menggenggam…
kuremas lembut jari-jari halus mba Astrid. Mba Astrid menundukkan wajahnya
ketika wajahku mendekat, kusibakkan rambut panjangnya yang jatuh menutup
sebagian wajahnya… kembali dia mengangkat wajahnya dan wajah kami hampir tak
berjarak, hembusan nafasnya terasa hangat dihidungku.. matanya menatapku penuh
makna… Entah keberanian dari mana yang mendorongku mengulum bibir indah yang
setengah terbuka milik mba Astrid… aah reaksi positif kudapatkan… kulumanku
dibalasnya, sejenak bibir kami berpagutan mesra, sampe akhirnya dia melepaskan
pagutan bibirnya dengan nafas terengah-engah.
“ Aaah Biimo… jangan… jangan diteruskan… bahaya…” katanya setengah berbisik
sambil berusaha melepaskan rengkuhanku… tak akan kulepaskan nyonya cantik ini…
kepalang tanggung..pikirku.
“ Kenapa mba..? apanya yang berbahaya..?” sahutku sekenanya sambil mendaratkan
kecupan bibirku di lehernya yang jenjang… sejenak dia meronta-ronta kecil
berusaha menghindari kenakalan bibirku pada leher mulusnya, sementara tanganku
tengah meremasi kemontokan buah dada yang ternyata memang tak mengenakan bra…
beberapa kali tangan halusnya menepiskan tanganku dari dadanya… tapi segera
tanganku kembali ke tempat semula, sampai sesaat kemudian perlawanannya
berhenti dengan sendirinya, berubah dengan desah nafas memburu dan geliatan
tubuhnya… serangankupun kukendorkan.. kecupan bibirku kuperlembut demikian juga
remasan tanganku berubah menjadi elusan lembut pada kulit payudaranya dan
gelitikan mesra pada puting susunya yang sudah mengeras…
“ Bimo… ssss… aku ngga tahaaan..” bisiknya pendek, dekat sekali suara itu di
telingaku… ooowww… daun telingaku dikulumnya… dijilatinya…
“ Ikuti aja mba… nikmati aja..” bisikku mesra sambil menarik tali daster yang
tersimpul di pundaknya, sehingga memperlihatkan kesempurnaan bukit montok di
dadanya.. begitu mulus dengan puting mungil mengeras berwarna merah kecoklatan…
kudaratkan jilatan ujung lidahku pada benda itu, tubuh mba Astrid menggeliat
sambil mendesah panjang…
“ Ssssssshhh… aaahh… Biimm..ooo.. aku.. takuut… mmmmmhh” Tak kupedulikan lagi
kalimat-kalimat mba Astrid, karena nafsukupun sudah di ubun-ubun apalagi
menghadapi kenyataan ternyata tubuh ibu muda ini memang tak layak untuk
dilewatkan sesentipun… desah-desah resah berhamburan dari mulut mba Astrid,
geliatan tubuhnya sudah menunjukkan kepasrahannya kepada birahinya sendiri…
tangannya mulai melingkar di leherku, betapa rambutku digerumasinya, betapa
kuatnya jari lentik mba Astrid mencengkeram kulit punggungku, manakala puting
susunya kukulum dalam waktu yang lama….
“ Duuuh… ampuuunn…..” desahnya lirih, perutnya yang rata berkulit putih dihiasi
lubang pusar berbentuk bagus ini menggeliat erotis, manakala bibirku
mengecupinya… Tubuh atas mba Astrid sudah kutelanjangi, entah kemana daster dan
sweaternya jatuh ketika kulempar tadi. Tubuhnya setengah rebah dengan kepala
berada di sandaran tangan sofa, sementara kulihat tangannya meremasi
payudaranya sendiri… Mba Astrid mengerang panjang dengan menggoyang-goyangkan
kepalanya yang mendongak ketika lubang pusarnya kukorek-korek mesra dengan
lidahku… tubuhnya menggeliat erotis sekali, rupanya disitu adalah salah satu
daerah sensitifnya…
“ Owww… Biimmoo… jangaaan… aku ga mauu…” bisiknya sambil tangannya menahan
daguku… ketika kukecupi gundukan kemaluannya dari balik celana G Stringnya yang
sudah tampak bercak basah…
“ Kenapa mbak..?” tanyaku lembut..
“ Ssssshh… aku belum.. pernah… maluuu..” jawab mba Astrid, sambil berusaha
menarik tubuhku ke atas… Busyeet jadi diapain aja tubuh indah ini sama mas
Budhi..? Selanjutnya tanpa permisi celana G String itu kusingkap ke samping….
Fuuuiii..! sebuah gundukan kecil yang dibelah tengah dengan rambut kemaluan ga
begitu lebat… sebuah bentuk luar kemaluan wanita yang masih orisinil… indah
sekali belahan yang basah kulihat berdenyut-denyut… tak ayal lagi lidahku
terjulur menyapu cairan yang membasahi belahan indah itu….
“Aaaaahhh… Biiiimmoooo… kamu bandeeelll…” Erang mba Astrid dengan tubuh semakin
hebat menggeliat… sepasang kaki panjangnya semakin terkangkang lebar… kaki
sebelah kiri terjuntai ke lantai yang beralaskan karpet tebal dan kaki sebelah
kanannya ditumpangkan di atas sandaran sofa… setelah G Stringnya kutanggalkan.
Rambutku habis diacak-acak tangannya yang gemas yang kadang mencengkeram erat
kulit pundakku… hal ini membuat aku semakin kesetanan ditambah aroma vaginanya
yang segar… bibirku menciumi bibir vaginanya selayaknya mencium bibir mulutnya
dan lidahku menyelip-nyelip memasuki liang yang basah itu sampai
sedalam-dalamnya…. sesekali kukulum clitoris mungil yang sudah mengeras…
“ Biiimmmmooo…. ampuuuunn… nikmaaaaat bangeeettt…” mba Astrid merintih-rintih
dengan suara seperti orang mau menangis… pinggulnya bergerak-gerak merespon
ulah lidah dan bibirku di selangkangannya…
“ Ooowwh… Biiimmm… sudaaaaahhhh aku ga tahaaaaan…” Suara mba Astrid semakin
memilukan… Tiba-tiba tubuh mba Astrid bangkit dan mendorong lembut tubuhku yang
tengah bersimpuh di karpet tebal kuikuti saja sehingga tubuhku telentang di
karpet sedangkan tubuh mba Astrid mengikuti arah rebah tubuhku sehingga tubuhku
kini ditindihnya…. payudaranya yang montok dan kenyal itu kini menempel ketat
di dadaku… wajah kami begitu dekat dan wajah wanita yang tengah diamuk birahi
memang akan semakin terlihat memikat, seperti wajah mba Astrid ini kulihat
semakin mempesonaku…
“ Bimooo… ayo masukin yaaah..?” Desisnya dengan bibir indahnya kulihat gemetar…
Alis indah di wajah cantik mba Astrid mengerinyit dan matanya yang agak sipit
semakin menyipit sayu…
“ Ouught… pelaaan Biiimm… ssssss… nyeriii…” keluhnya… sambil memepererat
pelukannya… kurasakan liang sanggama ibu muda ini sempit sekali ketika palkonku
berusaha menerobosnya… Tapi ibu muda ini sangat bersemangat untuk menuntaskan
gairah binalnya… walaupun dengan ekspresi yang nampak kesulitan dan kesakitan….
diiringi geal-geol pinggulnya… akhirnya amblaslah seluruh batang kemaluanku
tertanam di liang sanggamanya yang sempit..
“ Sssshhh… gilaaa… gede banget punya kamu… hhh… hhh… tunggu Biimm..” Tubuh
sintal mba Astrid ambruk ke tubuhku ketika penetrasi itu berhasil… kudiamkan
sejenak tubuh sintal itu diam tak bergerak di atas tubuhku dengan nafas memburu
tak beraturan… besutan-besutan kecil kurasakan ketika mba Astrid mulai
menggerakkan pinggulnya… dan gerakan itu semakin keras… dan besutan-besutan itu
semakin nikmat kurasakan…. aku ga bisa menahan diri lagi untuk mengcounternya…
aku mulai mengayun batang kemaluanku..
“ Biimmooo… oooohhh…sssshhhh” hanya itu desah-desah kalimat pendek yang sering
terucap dari mulut mba Astrid yang dengan gemulai menarikan pinggulnya…
diiringi erangan dan rintihan kami yang sangat ekspresif… sesekali bibir kami
berpagutan liar… remasan gemas tanganku pada payudara montok yang terayun-ayun
itu seakan tak mau lepas…
“ Biimm… Biimmoooo… ssssshh… aku hampiiirrr… ookkkhhh..” gerakan tubuh mba
Astrid semakin tak beraturan… dan rasanya akupun ga perlu menahan bobolnya
tanggul spermaku untuk lebih lama…
“ Tunggu mba..” desisku pendek.. dan bagaikan dikomandoin tubuh kami bisa
serentak meregang dan aku terpaksa mengayunkan batang kemaluanku
sehebat-hebatnya un tuk menghasilkan kenikmatanku secara maksimal…
“ Aaaaarrgh.. Biiiimmooo… aammmpuuuunn…” Tubuh mbak Astrid menggelepar hebat di
atas tubuhku… betapa kejam kuku jarinya mencengkeram dadaku sebagai pelampiasan
meledaknya puncak birahi betinanya….
Hening…. sesaat setelah terjadinya ledakan hebat… kulihat jarum jam didnding
menunjukkan angka 11.30… tubuhku tetap rebah telentang… sedangkan tubuh mba
Astrid tergolek disamping membelakangiku… Ketika deru nafas memburu kami mulai
mereda… dan ketika keringat birahi kami mulai mengering…. kupeluk tubuh sintal
mba Astrid dari belakang, tapi dengan lembut tanganku diangkat dan dipindahkan
ke tubuhku sendiri… dan tubuh mbak Astrid beringsut menjauhiku… kudekati lagi
tubuh itu dan kudaratkan kecupan di punggung berkulit mulus itu… kudengar isak
tangisnya….
“ kenapa mba..?” tanyaku lembut… lama ga ada jawaban, isak tangis mba Astrid
makin keras… kubelai lembut pundaknya.. tapi tanganku ditepisnya…
“ Bimo… aku sedih dengan kejadian ini… aku malu sama kamu.. dan aku merasa
sudah melukai hati Puspa dan mas Budhi…” terdengar suara mba Astrid serak…
“ Malu kepadaku..? untuk apa malu…? justru aku merasa lebih dekat dan bahagia
sama kamu mbak.. walaupun sebenarnya ga seharusnya dengan jalan seperti ini…
selama kita bisa memposisikan masalah ini pada porsinya, kurasa mas Budhi
ataupun Puspa ga akan merasa kita sakiti..” jawabku panjang lebar..
“ Aku takut mereka tahu apa yang telah kita lakukan..” sahut mba Astrid dengan
suara yang semakin tenang…
“ Mereka ga akan tahu selama kita ga memberitahu… dan kondisi kita saat ini
adalah seorang lelaki dan wanita yang punya keinginan yang harus terpenuhi saat
ini juga… kita tidak bisa menghindari mbak..” sahutku lagi, sambil kutumpangkan
tanganku dipinggul bulatnya… mba Astrid tak bereaksi walaupun masih
mempunggungiku…
“Lebih tepatnya harus terpenuhi malam ini… bukan hanya sesaat…” sahut mba
Astrid sambil membalikkan badannya, sehingga kembali payudara montoknya
menempel di dadaku… matanya menatapku tajam penuh tantangan.. dan kini wajah
sembab sehabis menangis ini tersenyum manis sekali…
“ sepanjang malam ini mba..?” tanyaku menegaskan, sambil kulingkarkan lenganku
ke pinggangnya yang raping…
“ Yah… bukankah malam masih panjang Bim…?” bisiknya manja.. wajahnya
ditengadahkan ke wajahku. Kupagut bibir bagus itu dan disambut dengan sangat
bergairah…. Gairah liar birahi betina mba Astrid meletup dahsyat, aku
benar-benar tak menyangka ibu muda yang kalem dan polos bisa berubah sedemikian
agresip… Batang kemaluanku rupanya benar-benar membikin ibu muda ini gemas
setengah mati… tak hentinya tangan berjari lentik ini mengocok dan
meremas-remasnya..
“ Bimo aku pengen “ini” kamu..” bisiknya manja sambil meremas lebih keras saat
mengucap kata “ini”…
“ Emang bisa..?” sahutku menggoda… wooww.. perutku digigit kecil mba Astrid
dengan gemas…
“ Boleeeh enggaaa..?” rajuknya
“ Iyaaaa… habisiiin deeeh..” jawabku sambil kuremas pantat bulatnya… Awalnya
kurasakan mba Astrid masih coba-coba… dengan sabar aku memberi arahan, karena
beberapa kali palkonku terkena giginya… lumayan sakiit… Selanjutnya, tubuhku
dibuat melintir dan menggeliat merasakan permainan lidah dan lembutnya bibir
mba Astrid membasuk batang kemaluanku… kadang-kadang dengan nekadnya batang
kemaluanku ditanamnya dalam-dalam sampai ujung kerongkongannya… sampai mba
Astrid tersedak..
“ Eeeii.. jangan diabisin mbaa..” kataku lembut… melihat mba Astrid tersedak..
“ Abis gemeees aku Bim… punya kamu panjaaang bangeeet, gede lagi…” bisiknya
manja, memberi alasan…
Akhirnya kami membuat posisi 69, mba Astrid menindihku dengan posisi
mengangkangi wajahku… Kami sepakat dengan posisi ini sampai mencapai orgasme…
kembali erangan dan rintihan kami bersahutan.. gerak tubuh kami sudah tak
berirama, detik-detik akhir mba Astridpun kurasakan… beberapa kali kaki
panjangnya meregang dan besotan mekinya di bibirku makin liar… aksi lidah dan
bibirnya pada batang kemaluankupun makin liar, membuatku semakin mendekati
titik kulminasi…
“ Eeeeeehhhkkk… Biiiimmmm… niiiikkkkmaaaattnyaaa…” rengek mba Astrid panjang,
tubuhnya menggeliat hebat… kedua kakinya meregang.. besotan meki ke mulutkupun
makin hebat… lidahku kujulurkan jauh kedalam liang becek yang kurasakan
mengedut-ngedut…
“ Oooowww.. mbak akuu.. hampiiirr…” Desahku selang tak lama setelah palkonku
kembali dihajar lidah dan mulut mba Astrid… busyeeet, bukannya melepaskan
kuluman bibirnya di palkonku, mba Astrid malah memperhebat aksi mulut dan
lidahnya ditambah kocokan tangannya pada batang kemaluanku… Apa dayaku… tak ampun
lagi diiringi eranganku, tubuhku mengejang keras mengantarkan semprotan
spermaku bertubi-tubi di dalam mulut mba Astrid yang makin lengket seperti
lintah menempel di tubuhku… tak luput kantong pelerku diremas-remas lembut,
seakan spermaku ingin diperas habis… setelah dirasa tetes terakhir… buru-buru
mba Astrid bangun dari tubuhku dan menyambar botol aqua yang tadi dibawa dari
rumah dan diteguknya sampai tandas…
“ Iiih… rasanya aneh… banyak banget, kentel lagi… kenyang deh aku Bim… tapi
enaak kok, asin ada gurihnya..” komentar mba Astrid dengan pengalaman barunya…
Kembali kami berbaring di karpet tebal merasakan lemasnya tubuh…
Setelah mengguyur tubuh dengan shower di kamar mandi kembali kami rebahan
santai di karpet tebal di depan televisi, saat itulah mba Astrid menceritakan
rahasia kehidupan ranjangnya dengan mas Budhi, yang monotone, mas Budhi terlalu
polos dan lurus dalam soal sex.. sedikit-sedikit takut dosa. Dalam hal kepuasan
sex sebenernya mba Astrid tidak merasa kekurangan, karena selain mas Budhi
memang punya stamina tubuh yang bagus dengan hidup sehatnya, di sisi lain
memang mba Astrid adalah type wanita yang gampang tersulut gairah seksualnya
dan dengan cepat mencapai puncak orgasme…
“ Pernah hari Minggu pagi aku liat mas Budhi sedang nyuci mobil dengan kaos
yang basah, sehingga nempel dibadannya yang atletis… seeerrrr… langsung.. basah
juga deh CD ku… dan langsung kutarik mas budhi kekamar dan aku telanjangi….
haa.. haaa.. dapet dua kali…” tutur mba Astrid sambil menyuapi aku dengan
anggur yang dibawanya tadi…
—-
Kembali kami nonton bokep yang belum kami tonton… belum seperempat jam Asia
Carrera beraksi…
“ Biiiimmm… nggaaa tahaaan neeh… keburu pagi…” Desah mba Astrid manja dengan
nafas yang sudah ngos-ngosan… apalagi dengan membengkaknya batang kemaluanku
yang dari tadi ga lepas dari genggamannya.
“ Mba Astrid pingin diapain..?” bisikku sambil kudaratkan kecupan di lehernya
“ Pingin kaya di film itu…” jawabnya manja… tanpa disuruh mba Astrid
menelungkupkan tubuhnya di sofa dengan kaki berlutut di karpet agak
mengangkang… kuminta pantatnya ditunggingkan sehingga gundukan bukit
kemaluannya mengarah keluar… mba Astrid kembali mengerang gemas ketika palkonku
mulai merentangkan otot liang sanggamanya… ketika pantat montok itu mulai
menggeol gemulai dan ketika batang kemaluanku mulai memompa… mulailah kuda
jantan dan kuda betina ini berpacu birahi… Aku membuktikan mba Astrid memang
wanita yang cepat mencapai orgasme dan cepat kembali berkobar birahinya… dan
mba Astrid menghendaki berganti posisi setelah dia mencapai orgasme… saking
seringnya dia mencapai orgasme… hampir-hampir kami kehabisan posisi dan di
setiap posisi mba Astrid mengaku bisa mencapai orgasme dengan kenikmatan yang
maksimal… Ketika pada orgasme mba Astrid yang kelima, aku juga merasakan
orgasmeku hampir sampai… mba Astrid menyadari itu…
“ Biimm… tumpahkan dimulutku sayaaang… aku suka peju kentel kamu…” rengeknya
disela-sela nafas kuda betinanya… dan dengan bernafsu sekali mba Astrid
menyambut semburan demi semburan sperma kentalku dengan mulut terbuka lebar dan
lidah yang menggapai-gapai… Tubuh mba Astrid kembali rebah telentang di karpet
setelah menenggak setengah botol aqua… rambutnya yang panjang tampak kusut dan
basah oleh keringatnya, tubuhnya yang berkulit putih juga tampak berkilat basah
oleh keringat… terlihat sinar matanya yang kecapekan dan wajah agak memucat…
Ketika aku keluar dari kamar mandi setelah kembali mengguyur tubuhku dengan
shower, kulihat mba Astrid tertidur pulas dengan bibir tersenyum… kulihat jam
menunjukkan jam 03.45… kurebahkan tubuhku disisinya… kubelai lembut rambutnya
yang masih basah oleh keringat birahi… kukecup keningnya yang sedikit nonong…
kuamati tubuh telanjang ibu muda ini, sebuah struktur yang sempurna… wajahnya
berbentuk oval, bibir berbentuk bagus, hidung mancung berbentuk ramping, mata
agak sipit tapi memanjang dengan kelopak besar… bulu mata yang lentik dan
panjang… alisnya seperti di gambar… postur tubuhnyapun proporsional antara
tinggi dan beratnya… sekitar 165 – 170 cm… buah dadanya yang montok kutaksir
cup branya B…. memang masih kenyal menggemaskan dengan puting susu bak perawan,
mencuat mungil ke depan, berwarna merah kecoklatan…
perutnya yang rata dengan lubang pusar berbentuk indah… pinggang ramping
menyambung dengan pinggul yang padat ditopang sepasang kaki yang panjang
berbentuk atletis…. Rupanya aku tak dapat menahan kantukku… Aku membuka mata
kulihat mbak Astrid bersimpuh di sebelah tubuhku, dengan pakaian sudah lengkap
membalut tubuhnya, rupanya dia yang membangunkanku kulihat jam dinding
menunjukkan pukul 05.15…
“Biim, aku pulang dulu yaa..?” kata mbak Astrid, wajahnya sudah segar, rupanya
sempat mencuci mukanya sebelum membangunkanku…
“ Eeeh… buru-buru sih..? kan masih pagi… “ jawabku sambil menarik pinggangnya…
“ Bimo kamu gila… liat tuh udah terang…” protesnya ketika tubuhnya menindih
tubuhku akibat tarikan tanganku dan aku memang gha peduli karena seperti biasa
kalo pagi hari, batang kemaluanku pasti ikut menggeliat bangun saat aku
bangun…. kembali kugumuli tubuh indah yang kini sudah berdaster lengkap dengan
sweaternya….
“ Aaaahhh Bimmooo… ga mauuk… bauuuk ga enak..” protesnya manja tapi tidak
menolak bahkan kudengar desisan panjang ketika batang kemaluanku kembali
menggelosor memasuki tubuhnya…
“ Biiimmo… asli aku ga mampu menolak yang begini iniii ooohhkk…” desisnya gemas
merasakan pompaan batang kemaluanku ke liang sanggamanya yang sempit…
“ Ayyuu Biiimmm… keburu mbak Suti dateng…” bisik mbak Astrid di deket
telingaku, setelah orgasmenya yang kedua, mbak Suti adalah tukang cuci yang
tiap pagi datang ke rumahnya….
“Owwkk.. Biiimmm… giiilllaa kamuuu… aku berasaa lagiii…” rengek mbak Astrid
lirih.. kurasakan tubuhnya mulai menegang…
“ Mmmhh… tuungguuu mbaakk..” Kupergencar pompaanku… tubuh mbak Astrid makin
kuat menegang.. memperkuat pelukan dan cengkeramannya di tubuhku…
“ Oooowww… nggaaaaa tahaaaan Biiiimmm…!” teriakan keras mba Astrid
menghantarkan geleparan tubuhnya yang tak terkontrol hal ini ternyata mendorong
dengan cepat semburatnya spermaku kembali memenuhi liang sanggama mba Astrid….
Kembali kami terkapar di atas karpet… kali ini mbak Astrid ngga lagi telanjang…
hanya dasternya aja tersingkap sampai ke perut… Setelah nafsnya kembali teratur
mbak Astrid beringsut bangkit sambil memungut celana G Stringnya dimasukkan ke
kantong dasternya…
“ Udah ya Bim… makasih banget untuk malam panjang ini… aku ga akan melupakan
malam indah sama kamu ini, tapi aku berharap cukup sekali ini saja… jangan
sampai kita ulang ya Biim… janji ya..?” kata mbak Astrid sendu… akupun mengangguk
saja, ngga ada kalimat yang mampu terucap dari mulutku… Kuantar mbak Astrid
sampai pintu ruang tamu, karena aku masih telanjang bulat… Nggak sampai
setengah menit mba Astrid menutup pintu rumahnya, kulihat dari balik kaca
jendela mba Suti tukang cuci itu datang…
Memang kejadian itu ga terulang lagi sampai saat ini dan hubungan keluarga kami
tetap seperti sediakala sampai akhirnya mba Astrid dan Puspa istriku melahirkan
anak dengan waktu hampir bersamaan, tapi kejadian semalam itu rupanya
benar-benar menjadi ikon yang hidup di hati aku dan mbak Astrid… beberapa kali
kami melakukan phone sex setiap kali mbak Astrid curhat tentang kehidupan
seksnya yang tetap monotone… hanya sebatas itu…


